PENGERTIAN FILSAFAT DAN BERPIKIR FILSAFATI

Oleh: Sarip Hidayatuloh

Seorang yang berfilsafat digambarkan oleh Jujun S. Suriasumantri seperti orang yang berpijak di bumi sedang tengadah memandang bintang-bintang di langit, dia ingin mengetahui hakekat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Seorang yang berdiri di puncak bukit, memandang ke ngarai dan lembah di bawahnya, dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya (Suriasumantri, 1996: 2). Seperti juga yang digambarkan oleh Harold H. Titus dan kawan-kawan, ketika ada pertanyaan seorang bocah berumur empat tahun yang menanyakan soal-soal luar biasa yang keluar dari mulutnya. Ia menanyakan “bagaimana dunia ini bermula?”, atau “benda-benda itu terbuat dari apa?” atau “apa yang terjadi pada seseorang jika ia mati?”

Gambaran dan pertanyaan-pertanyaan di atas akan membawa, menuntun, dan mengantarkan seseorang pada dunia pemikiran yang sangat mendasar dan substansial. Ketika seseorang memikirkan dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tanpa disadarinya bahwa ia sedang berfilsafat. Untuk bisa mengetahui dan menjelaskan hakekat hal-hal tersebut, dibutuhkan suatu pemikiran dan perenungan, yang dapat disebut sebagai berpikir filsafati. Pertanyaannya adalah apakah yang dimaksud dengan filsafat tersebut?

Kata filsafat berasal dari bahasa Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani: Philosophia, yang terdiri atas dua kata yang berarti philos = cinta, suka (loving) dan Sophia = pengetahuan, hikmah (wisdom), kebijaksanaan. Jadi philosopia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran (Poedjiadi and Muchtar n.d: 1.3). Maksudnya, setiap orang yang berfilsafah akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut philosopher dalam bahasa Arab disebut failasuf.

Pengertian filsafat secara terminologi atau istilah yang menggambarkan apa itu filsafat, diungkapkan oleh beberapa ilmuan di antaranya: 1) Plato, Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli; 2) Aristoteles, Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika; 3) Al Farabi, Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maupun bagaimana hakikat yang sebenarnya; 4) Rene Descartes, Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikan; 5) Langeveld, Filsafat adalah berpikir tentang masalah-masalah yang akhir dan yang menentukan yaitu masalah-masalah yang mengenai makna keadaan Tuhan, keabadian, dan kebebasan.

Baca Juga  Memahami Sejarah, Mencermati Zaman dan Mengkritik Kekuasaan

Dari beberapa pengertian filsafat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan mempergunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat bukannya mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, tetapi yang dicari adalah hakikat dari suatu fenomena. Hakikat adalah suatu prinsip yang menyatakan sesuatu adalah sesuatu itu. Filsafat adalah usaha untuk mengetahui segala sesuatu. Jadi, filsafat membahas lapisan yang terakhir dari segala sesuatu.

Referensi:

Poedjiadi, Anna, and Suwarma Al Muchtar. n.d. “Filsafat Ilmu.” Pp. 1–29 in Modul 1.

Suriasumantri, J. S. 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.