KEJELASAN DAN KEBENARAN ILMIAH DALAM FILSAFAT ILMU

Oleh: Sarip Hidayatuloh

sengkala – Pada saat kita membicarakan tentang konsep ilmu pengetahuan, kita memahami bahwa ilmu pengetahuan merupakan suatu proses kegiatan mengetahui dan berpikir yang memiliki tujuan (teleologis), yaitu memperoleh pengetahuan yang jelas (kejelasan) serta pengetahuan yang benar (kebenaran) tentang yang dipikirkannya atau yang diselidikinya. Sehingga agar kegiatan ilmiah dapat sampai pada tujuan yang memang kita kehendaki, kita perlu memahami tentang kejelasan dan kebenaran ilmiah.

Baca Juga: PENGERTIAN FILSAFAT DAN BERPIKIR FILSAFATI

Ilmu pengetahuan merupakan hasil kegiatan mengetahui dan berpikir yang jelas dan benar. Dengan kegiatan ilmiah, kita berharap memperoleh pengetahuan yang jelas. Kejelasan yang diharapkan adalah kejelasan hubungan antara satu hal dengan hal lainnya, hubungan antara hal yang dijelaskan/diterangkan dengan hal yang menjelaskan /menerangkan. Penjelasan/keterangan tentang suatu hal dapat menyangkut antara lain berkaitan dengan: bagianbagiannya, hubungan-hubungannya, tempatnya, sebabmusababnya, sifatnya, keberadaannya, kedudukannya. Kegiatan ilmiah berusaha menyelidiki dan memikirkan untuk menemukan ada atau tidaknya hubungan antara satu hal (yang perlu diterangkan) dengan hal lainnya (sebagai yang memberikan penjelasan).

Kebenaran ilmiah tidak dapat dipisahkan dari karakteristik yang bersifat ilmiah. Adapun kata ilmiah (Scientific: Inggris) dapat diartikan sebagai sesuatu yang bersifat ilmiah; secara ilmu pengetahuan; memenuhi syarat atau kaidah ilmu pengetahuan (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1994). Dengan demikian terlihat jelas bahwa kebenaran ilmiah itu dapat diaktualisasikan atau dimanifestasikan dalam pengetahuan ilmiah. Atau dengan kata lain, suatu pengetahuan disebut ilmiah justru karena di dalam pengetahuan tersebut terdapat suatu kebenaran yang bersifat ilmiah (Akromullah, 2018: 51).

Suatu kebenaran ilmiah tidak mungkin muncul tanpa adanya prosedur baku yang harus dilaluinya. Prosedur baku yang harus dilalui mencakup langkah-langkah, kegiatan-kegiatan pokok, serta cara-cara bertindak untuk memperoleh pengetahuan ilmiah, hingga hasil pengetahuan ilmiah itu diwujudkan sebagai hasil karya ilmiah (Wahana, 2016: 140). Seperti yang dikatakan Poedjawijatna (1967: 14) Kebenaran ilmiah yang diwujudkan dalam ilmu pengetahuan atau sain dapat disebut sebagai ilmu jika memenuhi berbagai syarat. Syarat-syarat tersebut adalah objektivitas, metodologis, universal, dan sistematis.

Baca Juga  Ajaran Agama Menjadi Pedoman dalam Kehidupan Ilmuan!

Baca Juga: PERBEDAAN ILMU DENGAN PENGETAHUAN

Lebih lanjut Beerling (1986) menegaskan bahwa kemandirian ilmu pengetahuan ilmiah sesungguhnya berkaitan dengan tiga norma ilmiah. Pertama pengetahuan ilmiah merupakan pengetahuan yang memiliki dasar pembenaran. Kedua pengetahuan ilmiah bersifat sistematis. Ketiga pengetahuan ilmiah bersifat intersubjektif (Akromullah, 2018: 52).

Baca Juga: SARANA BERPIKIR ILMIAH DALAM FILSAFAT ILMU

Dari berbagai pemahaman mengenai kebenaran ilmiah yang telah diuraikan di atas, dapat dibuat suatu kerangka pemahaman bahwa kebenaran ilmiah adalah sebagai kebenaran yang memenuhi syarat atau kaidah ilmiah atau kebenaran yang memenuhi syarat atau kaidah ilmu pengetahuan. Sedemikian rupa sehingga kebenaran ilmiah tidak dapat dipisahkan dari ilmu atau pengetahuan ilmiah atau sains sebagai a higher level of knowlwdge justru karena ilmu atau pengetahuan ilmiah merupakan aktualisasi dari kebenaran ilmiah.

Baca Juga: PENGERTIAN LANDASAN ONLOLOGIS, EPISTEMOLOGIS DAN AKSIOLOGIS DALAM FILSAFAT

Dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: pertama, setiap proses mengetahui akan memunculkan suatu kebenaran yang merupakan sifat atau isi kandungan dari pengetahuan tersebut, karena kebenaran merupakan sifat dari pengetahuan yang diharapkan. Kedua, sebagaimana ada berbagai macam jenis pengetahuan (menurut sumber asalnya, cara dan sarananya, bidangnya, dan tingkatannya), maka sifat benar yang melekat pada kebenaran terkait tentu juga beraneka ragam pula. Ketiga, sesuai dengan fokus perhatian dan pemikiran manusia terhadap proses serta hasil pengetahuan itu dapat berbeda, maka pemahaman maupun teori tentang pengetahuan serta tentang kebenaran pun juga berbeda-beda pula.

Berhubung ilmu pengetahuan itu meliputi berbagai bidang, berbagai kegiatan dalam proses kegiatan ilmiah, berbagai langkah kegiatan yang ditempuh, serta berbagai cara dan sarana yang digunakannya, dan ilmu pengetahuan berusaha untuk memperoleh pengetahuan yang cukup dapat diandalkan, maka tidak dapat disangkal bahwa kebenaran ilmiah mencakup berbagai macam jenis kebenaran.

Baca Juga  ASAL USUL BAHASA MANUSIA MENURUT TEORI DARWIN

Referensi:

Akromullah, Hamdan. 2018. “Kebenaran Ilmiah Dalam Perspektif Filsafat Ilmu (Studi Pendekatan Historis Dalam Memahami Kebenaran Ilmiah Dan Aktualisasinya Dalam Bidang Praksis.” Majalah Ilmu Pengetahuan Dan Pemikiran Keagamaan Tajdid 21 (1).

Poedjawijatna, I.R. 1967. Tahu Dan Pengetahuan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Wahana, Paulus. 2016. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Diamond.

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.