Sejarah Nuzululquran, Peristiwa Turunnya Al’Qur’an Kepada Nabi Muhaammad SAW

Oleh: Sarip Hidayatuloh

sengkala – Secara terminologi, Nuzulul Quran merupakan peristiwa diturunkannya wahyu Allah SWT yakni Al-quran kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril alaihisalam secara berangsur-angsur. yaitu Surah Al-Alaq ayat 1-5 kepada Nabi Muhammad Saw. Peristiwa ini terjadi di Gua Hira (Makah) pada sebuah malam bulan Ramadan yang bertepatan dengan Agustus 610M.

Terkait kapan tanggal pastinya Nuzululquran, terdapat perbedaan pandangan para ulama. Sebagian menyebutkan peristiwa tersebut berlangsung pada 17 Ramadan.

Ini merujuk pada Surah al-Anfal:41, “… Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan.”

Hari Furqan tersebut ditafsirkan sebagai hari jelasnya kemenangan umat Islam dan kekalahan kaum kafir dalam Perang Badar, yaitu Jumat, 17 Ramadan 2H. Dengan demikian, hari turunnya Al-Quran (dalam ayat tersebut dilukiskan sebagai ‘apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami’) diperkirakan 17 Ramadan (Maarif, 2011).

Namun, terdapat pendapat-pendapat lain tentang tanggal tepatnya Nuzululquran. Di antaranya, 18 atau 19 Ramadan. Ada pula ulama yang berpendapat Al-Quran turun pada 24 Ramadan dengan merujuk hadis tentang kitab-kitab terdahulu yang selalu terjadi pada bulan Ramadan.

Peristiwa Nuzululquran merupakan tanda diutusnya Nabi Muhammad Saw. sebagai Nabi dan Rasulullah. Al-Qur’an sendiri menjadi mukjizat terbesar beliau.

Kitab suci kaum Muslimin, yang berisi kumpulan wahyu Illahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad selama kurang lebih 23 tahun, secara populer dirujuk dengan nama “al-Qur’ãn”.

Sebagian besar sarjana Muslim memandang nama tersebut secara sederhana merupakan kata benda bentukan (mashdar) dari kata kerja (fi’il) “qara’a” (membaca). Dengan demikian Al-qur’an bermakna “bacaan” atau “yang dibaca” (maqrû’) (Amal, 2011: 54).

Para ulama membagi sejarah turunnya Al-Qur’an dalam dua periode: (1) Periode sebelum hijrah (ayat-ayat makkiyyah); dan (2) periode sesudah hijrah (ayat-ayat madaniyyah) (Kaeroni, 2017: 195).

Baca Juga  Menghayati Kembali Asal-Usul Istilah Ngabuburit

Tetapi disini akan dipetakan menjadi tiga periode guna mempermudah dalam pengklasifikasiannya.

Periode pertama, pada permulaan turunnya wahyu yang pertama (al Alaq 1-5) Nabi Muhammad SAW belum diangkat menjadi Rasul. Dan hanya berperan sebagai nabi yang tidak ditugaskan untuk menyampaikan wahyu yang diterimanya.

Sampai pada turunnya wahyu yang kedua barulah Nabi Muhammad diperintahkan untuk menyampaikan wahyu yang diterimanya, dengan adanya firman Allah: “Wahai yang berselimut, bangkit dan berilah peringatan” (QS 74: 1-2). (Quraish Shihab, 2006: 35).

Kemudian sesudah itu, kandungan wahyu ilahi berkisar dalam tiga hal. Pertama, pendidikan bagi Rasulullah SAW, dalam membentuk kepribadiannya (Q.s. Al-Muddatsir [74]: 1-7).

Kedua, pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai ketuhanan (Q.s. Al-A’la 87; dan Al’Ikhlas 112). Ketiga, keterangan mengenai dasar-dasar akhlak Islamiyah, serta bantahan-bantahan secara umum mengenai pandangan hidup masyarakat Jahiliah ketika itu. Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun.

Periode kedua, sejarah turunnya Al-Qur’an pada periode kedua terjadi selama 8-9 tahun, pada masa ini terjadi pertikaian dahsyat antara kelompok Islam dan Jahiliah.

Pada masa itu, ayat-ayat Al-Qur’an di satu pihak, silih berganti turun menerangkan kewajiban-kewajiban prinsipil penganutnya sesuai dengan kondisi dakwah ketika itu (Q.s. An-Nahl [16]: 125).

Sementara di lain pihak, ayat-ayat kecaman dan ancaman terus mengalir kepada kaum musyrik yang berpaling dari kebenaran (Q.S 41: 13).

Selain itu, turun juga ayat-ayat mengenai keesaan Tuhan dan kepastian hari kiamat (Q.S. Yasin [36]: 78-82) (Quraish Shihab, 2006: 37).

Periode ketiga, pada periode ini dakwah Al-Qur’an terlah mencapai atau  mewujudkan suatu prestasi besar. Karena penganut-penganutnya telah dapat hidup bebas melaksanakan ajaran-ajaran agama di Yatsrib (yang kemudian diberi nama Al-Madinah Al-Munawwarah).

Baca Juga  Mtiologi Gerhana dalam Keyakinan Masyarakat Sunda

Periode ini berlangsung selama 10 tahun. Ini merupakan periode yang terakhir, saat Islam disempurnakan oleh Allah SWT dengan turunnya ayat yang terakhir, Al-Maidah [5]: 3, ketika Rasulullah wukuf pada haji wada 9 Dzuhijjah 10 H/7 Maret 632 M.

Dan ayat terakhir turun secara mutlak, surat Al-Baqarah [2]: 281, sehingga dari ayat pertama kalinya memakan waktu sekitar 23 tahun.

Peristiwa Nuzululquran menjadi titik penting bagi kehidupan Muhammad. Sejak saat itu, ia Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib dari Bani Hasyim dinobatkan oleh Allah sebagai Nabi dan Rasulullah. Sejak saat itu pula, ajaran-ajarannya berkumandang ke seluruh dunia hingga ribuan tahun kemudian.

Referensi:

Khaeroni, Cahaya. 2017. SEJARAH AL-Qur’an (Uraian Analitis, Kronologis, dan Naratif tentang Sejarah Kodifikasi Al-Qur’an). Jurnal Historia. Vol. 5. No. 2.

Shihab, Quraish. 2006. Wawasan Al-Qur’an; Tafsi Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.

Amal, Taufik Adnan. 2011. Rekonstruksi Sejarah Al’Quran. Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi.

Maarif, Syamsul Dwi. 2021. Sejarah singkat Nuzululquran, peristiwa turunnya Alquran Surah Al-Alaq ayat 1 hingga 5 kepada Nabi Muhammad saw. Tirto.id.

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *