Prasasti Ciaruteun

  1. Letak Prasasti Ciaruteun

        Prasasti terletak di dalam Desa Ciaruteun, Kecamatan Cibungbulang. Secara geogrfis terletak pada koordinat 106°41’28,5″BT dan 06°31’39,9″ LS dengan ketinggian  320 m di atas permukaan air laut. Area situs dibatasi oleh tiga sungai, yaitu selatan: Sungai Ciaruteun, barat: Sungai Cianten, utara: Muara Sungai Cianten dan Sungai Cisadane, barat: Sungai Cisadane. Dari Sungai Cianten dan Cisadane terdapat perahu penyeberangan menuju situs. Tanah situs cukup subur dan dimanfaatkan oleh penduduk dengan menanami padi, sayuran, bambu dan tanaman keras lainnya

2. Isi Prasasti Ciaruteun

        Prasasti cirauteun ditemukan di sungai ciaruteun yang menarik dari prasasti ini adalah adanya lukisan laba laba dan tapak kaki yang dipahat di sebelahatas hurufnya, juga adanya huruf ikal yang belum pasti pembacaannya. Dari sebagian sarjana berpendapat kalo itu tulisan nama raja yaitu Purnnawarman. Tulisan yang berbentuk puisi terdiri dari empat baris yang ditulis dalam bentuk metrum india. Prasasti ciaruteun berbunyi:

Vikkrantasyavanipateh

Srimatah purnnavarmmanah

Tarumanagarendrasya

Vishnoriva padadvayam

Terjemahannya: ini (bekas) dua kaki, yang seperti kaki dewa wisnu, ialah kaki yang mulia purnnawarman, raja di negeri Taruma, raja yang berani di dunia.

        Berdasarkan isi prasasti dapat diketahui tiga hal yaitu: nama kerajaan Tarumanagara, nama raja Purnawarman dan dewa yang di-pujanya Wisnu. Tidak ada anda-tanda yang menunjuk lokasi keraton. Hanya saja dapat dipastikan, daerah tempat ditemukannya tentu termasuk kawasan Tarumanagara. Sedangkan Berdasarkan Gambar kaki yang terdapat dalam prasasti tersebut kepercayaan yang dianut oleh raja purnawarman adalah kepercayaan Weda.

Gambar telapak kaki pada prasasti Ciarunteun mempunyai 2 arti yaitu:

  • Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tersebut (tempat ditemukannya prasasti tersebut).
  • Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan dan eksistensi seseorang (biasanya penguasa) sekaligus penghormatan sebagai dewa. Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.
Baca Juga  Filsafat Sejarah: Ciri-Ciri Sejarah Sebgai Ilmu Pengetahuan

        Prasasti ini telah dialih aksara dan diterjemahkan oleh J.Ph. Vogel tahun 1920, Prasasti Ciaruteun ditulis dengan huruf Palawa dalam Bahasa Sangsakerta sebanyak 4 baris masing-masing 8 suku kata.

3. Bentuk Morfologi Prasasti Ciaruten

        Prasasti Ciaruteun diketahui berdasarkan laporan pimpinan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada tahun 1863 M, ditemukan di aliran Sungai Ciaruteun, kira-kira 100 meter ke arah hilir muara Cisadane. Menurut informasi ketika terjadi banjir pada tahun 1894 M, prasasti tersebut bergeser sehingga tulisannya terbalik menghadap ke dasar sungai, kemudian pada tahun 1903 M letaknya diperbaiki. Pada tahun 1981 dipindahkan dari tengah Sungai Ciaruteun ke daratan (di atas Sungai) ± 150 meter sebelah utara. sungai Ciaruten.

        Inskripsi tertulis pada sebongkah batu andesit dengan ukuran Tinggi: 151 cm, Diameter atas: 72 cm, Diameter bawah: 134 cm dengan berat batu +- 8000 kg. Goresan berupa sepasang tapak kaki dan lukisan laba-laba yang dipahatkan di atas huruf. Tulisan terdiri dari 4 baris dituliskan dalam bentuk puisi India .


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *