Peran Manusia dalam Sejarah: Dinamika Peristiwa Sejarah dalam Perjalanan Waktu

Oleh: Sarip Hidayatuloh

sengkala – Sejarah adalah sekumpulan peristiwa masa lalu. Sebagai ilmu, sejarah meneliti peristiwa yang terjadi di masa lampau. Mengapa perlu diteliti?

Peristiwa sejarah terus bergerak ke masa kini dan masa depan serta dalam proses itu senantiasa memengaruhi kehidupan manusia. Dengan kata lain, peristiwa masa lalu it terus bergerak secara dinamis, tidak statis apalagi mati.

Para sejarawan meneliti seperti apa dinamika suatu peristiwa sejarah dalam perjalanan waktu. Dinamika itu dapat berbentuk perubahan, perkembangan, kesinambungan, ataupun pengulangan.

Akan tetapi, siapakah yang memungkinkan peristiwa sejarah itu terus bergerak secara dinamis dari masa lalu ke masa depan? Jawabannya adalah manusia yang berbperan sebagai penggerak sejarah.

Manusia dan sejarah tidak dapat dipisahkan. Perannya dalam peristiwa sejarah seperti layaknya pemeran utama dalam drama. Dengan kata lain, sejarah adalah sejarahnya manusia. Peristiwa yang dikajipun adalah peristiwa yang terkait dengan manusia.

Sebab gerak sejarah merupakan gerak perwujudan pikiran, perasaan dan tindakan manusia pada masa lampau, yang terus memengaruhi kehidupan manusia sampai saat ini dan masa yang akan datang. Manusialah yang menggerakkan dan mengendalikan sejarah atau peristiwa hidupnya dalam rangka mewujudkan perubahan dan kemajuan yang dicita-citakannya.

Seperti yang dikatakan Muhammad Yamin bahwa Sejarah adalah ilmu pengetahuan tentang cerita sebagai hasil penafsiran kejadian manusia masa lalu (Ali, 2003: 53). Sehingga manusia menjadi pencipta, pelaku, penutur dan sumber sejarah sekaligus.

Hal tersebut dikarenakan manusia memiliki rasio atau akal budi yang telah di anugerahkan oleh Tuhan. Dengan akal budinya, manusia dapat mengingat, merefleksikan pengalaman hidupnya yang menyebabkan terjadinya banyak perkembangan dalam kehidupannya, sehingga kehidupan mansuia cenderung dinamis dan tidak statis.

Baca Juga  Seperti Apa Kita Mengenal Kartini?

Manusia memiliki akal budi, dengan akal budi atau kesadarannya manusia, manusia dapat mengingat, merefleksikan, serta belajar dari peristiwa-peristiwa hidup yang sudah terjadi pada masa lampau untuk kemudian dijadikan panduan hidupnya di masa kini dan masa depan.

Akal budi atau kesadaran itulah yang memungkinkan terjadinya perubahan, kesinambungan, perkembangan dan bahkan pengulangan dari berbagai peristiwa yang telah terjadi. Berbeda halnya dengan hewan yang tidak memiliki akal budi melainkan hanya menggunakan isntingnya.

Oleh karena itu, hewan tidak memiliki kemampuan belajar, berkembang dan berubah ke arah yang lebih baik. Dalam bertindak, hewan hanya mengandalkan nalurinya saja untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Kehidupan hewan cenderung statis berbeda dengan manusia yang dari waktu-kewaktu terus mengalami atau melakukan perubahan.

Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan alam pun ikut memengaruhi sejarah manusia, misalnya dalam bentuk keadaan iklim, kandungan sumber daya alam dan bahkan bencana alam.

Dimana, hal-hal tersebut akan memengaruhi corak serta pola hidup suatu masyarakat dalam suatu wilayah, sehingga nantinya menimbulkan kebergaman dari cara hidup dan sebagainya. Keberagaman itu bisa dilihat secara sedehananya, bagaimana pola hidup masyarakat yang tinggal di pedesaan dengan masyarakat yang tinggal di perkotaan.

Akan tetapi, pandangan bahwa manusia menggerakkan sejarah baru muncul sejak zaman Renaisance. Sebelum itu, diyakini bahwa sejarah itu digerakkan oleh hukum alam atau sering dikenal dengan hukum fatum.

Hukum fatum ini mengatakan bahwa gerak sejarah berlangsung secara alami sesuai dengan hukum Fatum (takdir, nasib), di mana gerak sejarah ditentukan oleh hukum alam (sistem musim, tumbuhan, atau siklus hidup manusia) dari kelahiran hingga kematian (Zed, 2018: 58).

Dalam hukum fatum, kekuatan alamlah (takdir, nasib) yang menggerakkan manusia dan sejarahnya, lalu kemudian manusia mengikutinya saja secara pasif.

Baca Juga  Tradisi Ngabungbang di Desa Batulawang Kota Banjar

Berbeda dengan pada zaman Renaisance, di mana para pemikir pada zaman ini sangat meyakini bahwa umat manusia melalui akal budinya dapat mencapai kesempurnaan, dan kebahagiaan di dunia ini sehingga tidak menunggu-nunggu kehidupan akhirat, dalam artian tidak pasrah melainkan bergerak untuk mengubah keadaan (sejarah).

Semboyan sapere aude yang berarti “beranilah berpikir sendiri” menjadi semboyan yang sangat terkenal pada zaman ini. Yang beranggapan bahwa kebahagiaan dan kemajuan manusia adalah tujuan gerak sejarah, dan manusia aktif mewujudkan tujuan itu. Gerak sejarah ini yang kemudian disebut sebagai gerak sejarah linear, di mana sejarah bergerak ke depan menuju kemajuan atau dari tingkat yang lebih rendah, terkebelakang ke tingkat yang lebih tinggi atau lebih sempurna (Zed, 2018: 58).

Seorang sosiolog tekenal Aguste Ciomte berpendapat bahwa masyarakat yang maju dan sempurna akan tercapai apabila mereka telah memasuki Tahap Positif Imliah, yaitu dimana gejala-gejala alam diamati dan dijelaskan secara ilmiah.

Tahap ini yang kemudian memungkinkan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang nicaya akan membawa kemajuan dan kesempurnaan yang luar biasa dalam kehidupan manusia.

Keyakinan pada rasio atau akal budi itu kemudian dipertegas lagi oleh Ibnu Khaldun yang berpendapat bahwa tujuan sejarah manusia adalah terpenuhinya harapan dan cita-cita manusia di dunia ini yaitu yang menyangkut kemajuan dan perkembangan hidupnya.

Sehingga dengan demikian, manusia adalah penggerak sejarah, akal budi manusia yang dianugerahkan oleh Tuhan memungkinkan manusia untuk merencanakan dan menggerakkan sejarah demi perubahan, kemajuan dan perkembangan hidupnya.

Referensi:

Ali, R. Moh. 2003. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Lkis.

Zed, Mestika. 2018. “Tentang Konsep Berfikir Sejarah.” Lensa Budaya 13 (1): 54–60. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.34050/jlb.v13i1.4147.

Baca Juga  Happy Women' Day "Perempuan Itu Harus Saling Menguatkan, Jangan Saling Menjatuhkan"

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.