Manusia dalam Konsep Ruang dan Waktu dalam Sejarah

Oleh: Sarip Hidayatuloh

sengkala – Pada pembahasan sebelumnya, kita telah membahas tentang gerak sejarah, dimana sejarah itu berfokus pada proses perjuangan manusia untuk menju kemajuan dan mewujudkan secara maksimal potensinya.

Perjuangan manusia menuju kemajuan dan kesempurnaan itu disebut sebuah proses, karena perjuangan tersebut bergerak secara dinamis dan menghasilkan sebuah perubahan dalam ruang dan waktu.

Konsep antara manusia, ruang dan waktu merupakan sebuah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan begitu saja. Karena, setiap peristiwa sejarah yang terjadi tidak pernah lepas dan berlangsung secara terus-menerus dalam ruang dan waktu tertentu.

Sejarah mengenal adanya dimnesi spasial dan dimensi temporal. Spasial atau ruang merupakan tempat terjadinya suatu peristiwa sejarah. Sedangkan temporal atau waktu ini berhubungan dengan kapan peristiwa tersebut terjadi. Sementara manusia adalah subjek dan objek sejarah. Karena manusia sebagai pelaku dan penulis sejarah itu sendiri (Setyawan, 2016)..

Ruang adalah konsep yang paling melekat dengan waktu. Ruang merupakan tempat terjadinya berbagai peristiwa-peristiwa sejarah dalam perjalanan waktu.

Penelaahan suatu peristiwa berdasarkan dimensi waktunya tidak dapat terlepaskan dari ruang waktu terjadinya peristiwa tersebut. Jika waktu menitik beratkan pada aspek kapan peristiwa itu terjadi, maka konsep ruang menitikberatkan pada aspek tempat, dimana peristiwa itu terjadi.

Tentang ruang, kiranya sudah sangat jelas. Karena tidak ada suatu peristiwa yang terjadi tanpa ada medium ruang. Setiap peristiwa yang terjadi berlangsung dalam ruang tertentu. Setiap tindakan dan perilaku manusia terjadi di lokasi atau tempat tertentu.

Dengan adanya ruang membuat pemahaman kita mengenai peristiwa sejarah semakin nyata. Kemudian dengan adanya ruang memungkinkan adanya kategorisasi peristiwa sejarah berdasarkan tempat, seperti sejarah local, daerah, nasional, wilayah, kawasan, dan lain sebagainya.

Baca Juga  Tantangan Radikalisme Agama di Indonesia

Selanjutnya, waktu (dimensi temporal) memiliki dua makna yakni makna denotatif dan makna konotatif. Makna waktu secara denotatif adalah merupakan satu kesatuan: detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad, dan seterusnya. Berdasarkan dimensi waktu, suatu peristiwa merupakan suatu proses.

Artinya, peristiwa tersebut mengalami perubahan sejalan dengan waktu. Apakah waktu? Konsep waktu itu ada dan terus berjalan (continuity). Waktu dapat dimanfaatkan oleh setiap orang yang memiliki kesadaran bahwa waktu itu terus berjalan. Jadi, hanya manusia yang dapat memanfaatkan waktu yang dapat mengalami perubahan ke arah yang lebih baik (Ningrum n.d: 5.4).

Sejarah sebagai suatu ilmu memiliki tugas pokok yakni: membuka masa lampau/waktu yang lalu umat manusia, memaparkan kehidupan manusia dalam berbagai aspek kehidupannya dan mengikuti perkembangannya dari masa yang paling tua hingga dewasa ini.

Oleh karena itu, konsep waktu menjadi sangat penting dan merupakan konsep esensial dalam sejarah. Sangat wajar apabila dalam setiap penulisan sejarah/historiografi tidak hanya mencakup penetapan waktu, tetapi lebih-lebih memberi bentuk kepada waktu sehingga waktu juga menunjukkan struktur.

Sesungguhnya yang dipelajari oleh sejarah tidak hanya terbatas pada pengkajian tentang perkembangan kehidupan masyarakat manusia pada masa lampau. Melainkan kesinambungan, pengulangan, dan perubahan dari peristiwa-peristiwa masa lalu umat manusia tersebut.

Jadi, keterkaitan antara waktu dengan peristiwa sejarah meliputi empat hal, yaitu l) perkembangan, 2) kesinambungan, 3) pengulangan, dan 4) perubahan (Ningrum n.d: 5.8).

Perkembangan masyarakat terjadi bila berturut-turut masyarakat bergerak dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Biasanya masyarakat akan berkembang dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks.

Contoh yang paling jelas adalah perkembangan demokrasi di Amerika yang mengikuti perkembangan kota. Perkembangan masyarakat manusia dari masa lampau sampai sekarang dipelajari oleh sejarah. Dan dalam hal ini ilmu sosiologi dan antropologi yang besar peranannya dalam membantu sejarah untuk mengungkapkannya.

Baca Juga  Peran Manusia dalam Sejarah: Dinamika Peristiwa Sejarah dalam Perjalanan Waktu

Kesinambungan terjadi bila suatu masyarakat baru hanya melakukan adopsi lembaga-lembaga lama. Dikatakan bahwa pada mulanya kolonialisme adalah kelanjutan dari patrimonialisme. Demikianlah, kebijakan kolonialisme hanya mengadopsi kebiasaan lama. Dalam menarik upeti raja taklukan, Belanda meniru raja-raja pribumi. Juga dalam sewa tanah.

Pengulangan terjadi bila peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau teljadi lagi di masa selanjutnya. Sejarah terulang maksudnya bukan sejarah tersebut berulang lagi dan lagi, melainkan pola dari sejarah itu.

Artinya fenomena yang pernah terjadi sebelumnya terulang kembali pada masa sesudahnya dan masa sekarang, misalnya: jatuhnya kekuasaan presiden Soekarno akibat aksi-aksi yang dilakukan oleh para mahasiswa. Peristiwa ini terjadi kembali, di mana presiden Soeharto lengser juga akibat aksi-aksi yang dilakukan oleh para mahasiswa.

Perubahan terjadi bila masyarakat mengalami pergeseran, sama dengan perkembangan. Akan tetapi, asumsinya ialah adanya perkembangan besar-besaran dan dalam waktu yang relatif singkat.

Artinya, masyarakat membentuk praktik yang baru dan berbeda sama sekali dengan praktik sebelumnya. Hal itu biasanya terjadi karena praktik lama dinilai tidak memadai lagi (ketinggalan zaman) untuk menunjang kemajuan dan tata kehidupan di masa sekarang.

Biasanya perubahan ini terjadi akibat pengaruh dari luar. Misalnya perang, bencana alam, revolusi, krisis ekonomi, reformasi dan globalisasi. Perubahan-perubahan tersebut membawa perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat.

Salah satu contoh perubahan dari luar misalnya perpindahan pusat Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa timur, yang diakibatkan oleh letusan dahsyat Gunung Merapi yang menyebabkan hancurnya pusat Kerajaan Mataram Kuno.

Berdasarkan sifatnya, ada perubahan yang direncanakan dan yang tidak direncanakan. Perubahan yang direncanakan yaitu perubahan-perubahan yang melewati proses perencanaan tertentu, seperti perubahan tatanan system pemerintahan.

Baca Juga  PENJELAJAHAN SAMUDRA OLEH BANGSA EROPA

Sementara itu perubahan yang tidak direncakan yaitu perubahan yang diakibatkan dari adanya dampak-dampak yang tidak diharapkan dari apa yang telah direncanakan. Misalnya praktik KKN.

Referensi:

Ningrum, Epon. n.d. “Modul 5 Konsep Ruang Waktu Dan Sejarah.” In Materi Dan Pembelajaran IPS SD, 1–51.

Setyawan, Doni. 2016. “Konsep Ruang Dan Waktu Dalam Sejarah.” http://www.donisetyawan.com/konsep-ruang-dan-waktu-dalam-sejarah/.

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.