Manusia dan Sejarah: Konsep Kausalitas dalam Sejarah

Oleh: Sarip Hidayatuloh

sengkala – Kausalitas adalah hukum sebab-akibat. Plato mengatakan bahwa “segala seuatu yang terjadi dan berubah mestilah ada sebabnya karena tak ada di dunia ini yang terjadi tanpa sebab”.

Konsep “sebab” dalam sejarah mengacu pada tindakan atau kejadian yang dapat menyebabkan terjadinya tindakan atau peritiwa lain. Hasil dari tindakan atau kejadian itu disebut akibat (Zed, 2018: 56).

Hubungan sebab-akibat melibatkan korelasi yang selalu dapat dipelajari. Tanpa konsep sebab sejarah akan kehilangan ciri ilmiahnya. Konsep sebab dalam sejarah selalu mendahului akibat atau sebaliknya akibat selalu merupakan hasil dari tindakan atau peristiwa sebelumnya.

Hukum kausalitas sejarah selalu berlangsung dalam lintas waktu. Namun tidak semua rentetan tindakan atau kejadian berlangsung dalam rangkaian sebab-akibat, melainkan dalam benuk hubungan “korelasi” atau koeksistensi (berlangsung bersamaan). Sebuah tindakan memiliki hubungan langsung terhadap kejadian lain, tetapi bukan disebabkan oleh tindakan atau kejadian yang mendahuluinya.

Misalnya keliru mengatakan perilaku kekerasan terjadi karena acara tv atau film karena di situ ada beberapa aspek berbeda yang perlu dibedakan. Maka lebih aman mengatakan bahwa ada korelasi antara menonton tayangan tv dalam film bertema kekerasan (fisik dan non fisik) daripada mengatakan acara tv yang menyuguhkan tayangan perilaku kekerasan menjadi penyebab perilaku kekerasan.

Secara umum dapat dikatakan bahwa kausalitas mengandung makna bahwa sesuatu (peristiwa) memerluken sebab-sebab untuk terwujudnya. Kattsoff (1989: 57) mendefinisikan sebab sebagai syarat-syarat yang harus ada dan syarat-syarat yang mencukupi kebutuhan. Syarat yang harua ada artinya bahwa tanpa adanya syarat-syarat tersebut, suatu akibat peristiwa tidak akan terjadi.

Sedangkan syarat yang mencukupi kebutuhan artinya bahwa adanya syarat tersebut, tentu akan menimbulkan suatu peristiwa (kejadian) dan akibat-akibat tertentu, meskipun terdapat hal-hal Iain yang juga dapat menimbulkan akibat (kejadian) yang sama. Jadi, di dalam sebab terkandung unsur-unsur kemutlakan sekaligus juga unsur kemungkinan.

Baca Juga  Sejarah dan Filosofi Ketupat diHari Raya Idul Fitri (Lebaran): Respon terhadap Multikulturalis Pluralitas di Indonesia

Sebagai contoh hukum kausalitas dalam sejarah, yaitu peristiwa runtuhnya Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-12. Dimana Kerajaan Majapahit tidak runtuh begitu saja melainkan berkaitan erat dengan peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya. Sehingga ada hubungan kausalitas (sebab-akibat) dan saling mempengaruhi di situ.

Artinya peristiwa keruntuhan itu tidak berdiri sendiri, melainkan disebabkan oleh berbagai peristiwa yang mendahuluinya. Shingga keruntuhan tersebut berdampak pada berakhirnya masa kerajaan-kerajaan bercorajk Hindu-Budha di Indonesia dan mulai meluasnya pengaruh Islam.

Untuk lebih jelasnya perhatikan gambaran singkat mengenai hubungan kausalitas di antara factor-faltor yang mendorong runtuhnya kerajaan tersebut:

  1. Sepeninggal Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, tidak ada lagi sosok pemimpin yang kuat dan tangguh.
  2. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik dan perebutan kekuasaan di dalam kerajaan.
  3. Konflik internal tersebut menjadi penyebab melemahnya kekuatan ekonomi dan politik Kerajaan Majapahit.
  4. Lemahnya Kerajaan Majapahit mendorong kerajaan-kerajaan bawahannya yang ingin memisahkan diri memberontak dan melawan Majapahit. Kondisi politik itu semakin memburuk dengan masuknya pengaruh agama Islam di bawah Raden Patah, yang mulai membangun kekuatan di wilayah pesisir yang penduduknya sudah mulai memeluk Islam.
  5. Semaik kuatnya pengaruh Raden Patah di Demak membuat Majapahit semakin kehilangan kekuatannya.
  6. Ketika Raden Patah berhasil mengonsolidasi kekuatan di wilayah pesisir bersama wilayah-wilayah kekuasaan Majapahit yang memisahkan diri, serangan ke Majapahitpun tidak terhindarkan sehingga berakibat pada runtuhnya Majapahit.
  7. Runtuhnya Majapahit mengakhiri masa kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Budha serta berakibat pada berkembang pesatnya pengaruh Islam di Nusantara.

Dari contoh di atas dapat dikatakan bahwa, suatu peristiwa sejarah bisa saja terjadi karena bebagai sebab, artinya lebih dari satu sebab, entah sebab langsung atau tidak langsung. Setiap factor penyebab tidak berkontribusi secara setara atau sama terhadap terjadinya peristiwa itu.

Baca Juga  Sejarah dan Asal Usul Kampung Adat Kuta Ciamis

Referensi:

Kattsoff, Louis O. 1989. Pengantar Filsafat. Terjemahan Soejono Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Zed, Mestika. 2018. “Tentang Konsep Berfikir Sejarah.” Lensa Budaya 13 (1): 54–60. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.34050/jlb.v13i1.4147.

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *