Filsafat Sejarah: Ciri-Ciri Sejarah Sebgai Ilmu Pengetahuan

Oleh: Sarip Hidayatuloh

Sengkala – Sejarah adalah ilmu pengetahuan. Sebagai ilmu pengetahuan, sejarah merupakan gambaran tentang peristiwa-peristiwa masa lampau yang dialami manusia, disusun secara ilmiah, meliputi kurun waktu tertentu, diberi tafsiran, dianalisis secara kritis sehingga mudah dipahami dan dimengerti.

Selain itu proses rekonstruksi suatu peristiwa sejarah yang dilakukan oleh para sejarawan, tidak serta-merta dilakukan begitu saja, melainkan dengan menggunakan suatu metode ilmiah, yaitu metode penelistian sejarah.

Lalu, apakah ciri-ciri khas sejarah sebagai ilmu? Tidak semua asas atau kaidah ilmu pengetahuan berlaku bagi ilmu sejarah. Ilmu sejarah misalnya tidak bertujuan untuk mendapatkan hukum atau dalil tertentu sebagaimana dalam ilmu-ilmu alam.

Menurut Kuntowijoyo (2018: 46-49) ciri-ciri sejarah sebagi ilmu itu adalah, sebagai berikut: sejarah itu empiris, sejarah itu mempunyai objek, sejarah itu mempunyai teori, sejarah itu mempunyai generalisasi, dan sejarah itu mempunyai metode.

  1. Sejarah itu empiris,

Artinya sejarah sangat tergantung pada pengalaman manusia. Pengalaman itu direkam dalam dokumen. Dokumen-dokumen itulah yang diteliti oleh sejarawan untuk menentukan fakta. Fakta itulah yang diinterpretasi. Dari interpretasi atas fakta, barulah muncul tulisan sejarah.

Jadi, meskipun ada perbedaan mendasar dengan ilmu alam dan biologi. Sejarah itu sama dengan ilmu-ilmu alam. Sama-sama berdasar pada pengalaman, pengamatan, dan penyerapan.

Akan tetapi, dalam ilmu-ilmu alam percobaan itu dapat diulang-ulang. Sementara itu, sejarah tidak bisa mengulangi percobaan. Revolusi Indonesia tidak dapat diulang kembali; sekali terjadi, sudah itu lenyap ditelan masa lampau. Indonesia tidak dapat diulang kembali; sekali terjadi, sudah itu lenyap ditelan masa lampau.

  • Sejarah itu mempunyai objek

Sejarah sering dituduh sebagai sesuatu yang tidak jelas. Biasanya sejarah dimasukkan dalam ilmu kemanusiaan karena objeknya adalah manusia. Akan tetapi, sama-sama membicarakan tentang manusia, kajian sejarah berbeda dengan misalnya antropologi.

Baca Juga  Guling dan Pergundikan di Indonesia pada Masa Kolonial Belanda

Lebih dari segalanya, objek dari sejarah ialah waktu. Jadi, sejarah mempunyai objek sendiri yang tidak dimiliki ilmu lain secara khusus. Kalau fisika membicarakan waktu fisik, maka sejarah membicarakan waktu manusia.

Waktu dalam pandangan sejarah tak pernah lepas dari manusia. Karena itu, soal asal mula selalu menjadi bahasa utama. Masuknya Islam di Indonesia, apakah pada abad ke-8 atau abad ke-13, seharusnya tidak menjadi persoalan bagi sejarawan asal penjelasannya dapat diterima.

Demikian juga tentang hari lahir Pancasila, dijatuhkan pada waktu Soekarno berpidato ataukah diumumkannya UUD 1945, bukan urusan sejarawan untuk menetapkan. Urusan sejarawan hanyalah penjelasannya, dan urusan peringatan itu sepenuhnya adalah keputusan politik.

  • Sejarah itu mempunyai teori

Teori pada umumnya berisi satu kumpulan tentang kaidah pokok suatu ilmu. Dalarn filsafat disebut epistemologi (dari bahasa Yunani episteme yang berarti “pengetahuan” dan logos yang berarti “wacana”) (Kuntowijoyo, 2018: 47).

Ilmu-ilmu alam menjadikan alam sebagai objeknya, sedangkan ilmu-ilmu sosial menjadikan masyarakat sebagai objek penelitian, maka sejarah juga mempunyai objek sendiri, yaitu manusia dan waktu.

Meskipun sama-sama pengetahuan tentang waktu, sejarah juga membedakan dirinya dengan mitos. Mitos tidak menjelaskan tentang kapan sesuatu terjadi, sedangkan bagi sejarah penjelasan tentang waktu itu penting.

Sejarah bertanya bagaimana mungkin orang mengetahui waktu, pengetahuan itu mutlak atau relatif, cara-cara mengukur kebenaran pengetahuan itu, dan model-model penjelasan sejarah. Sejarah mempunyai tradisi yang panjang, jauh lebih panjang daripada ilmu-ilmu sosial.

Dalam setiap tradisi itu terdapat teori sejarah. Di universitas-universitas Amerika yang berorientasi pragmatis, tidak diajarkan teori sejarah yang bersifat filosofis. Sebaliknya, di Negeri Belanda yang mempunyai tradisi kontinental yang lebih kontemplatif, teori sejarah yang bersifat filosofis diajarkan. Teori sejarah diajarkan sesuai dengan keperluan peradaban.

  • Sejarah mempunyai generalisasi
Baca Juga  Asal Usul Voodoo Kepercayaan Spiritis Animis dari Benua Afrika

Generalisasi, dari bahasa Latin generalis yang berarti “umum”. Dengan demikian, generalisasi berarti suatu kesimpulan yang bersifat umum atau menyeluruh terhadap suatu gejala atau informasi berdasarkan fakta atau data yang ada.

Hanya saja menurut Kuntowijoyo (2018: 49) perlu diingat kalau ilmu-ilmu lain bersifat nomotetis, sejarah itu pada dasarnya bersifat ideografis.  Kalau sosiologi membicarakan masyarakat di pojok jalan atau antropologi membicarakan pluralisme Amerika, mereka dituntut untuk menarik kesimpulan-kesimpulan umum yang berlaku di mana-rnana dan dapat dianggap sebagai kebenaran umum.

Generalisasi sejarah seringkali merupakan koreksi atas kesimpulan-kesimpulan ilmu lain. Bahwa revolusi Indonesia bukan pekerjaan kaum ekstremis, seperti propaganda Belanda, terjawab dengan menunjukkan bahwa revolusi itu adalah revolusi pemuda.

Demikian pula generalisasi kaum Marxis yang melihat semua revolusi sebagai perjuangan kelas tidak terbukti dalam revolusi Indonesia yang digerakkan oleh ide nasionalisme. Di negara-negara mantan sosialis, orang digerakkan oleh kesadaran.

Etnisitas juga merupakan sebuah kekuatan. Mungkin kaum Marxis akan menganggap bahwa semua yang tidak digerakkan oleh perjuangan kelas mempunyai kesadaran palsu.

  • Sejarah itu mempunyai metode

Untuk sebuah penelitian, sejarah mempunyai metode tersendiri yang menggunakan pengamatan. Kalau ternyata suatu pernyataan tidak didukung dengan fakta-fakta/bukti-bukti sejarah, maka pernyataan itu ditolak.

Misalnya, pernyataan kaum Marxis ortodoks bahwa super structure atau bangunan atas adalah berupa sistem sosial. Pernyataan itu ternyata tidak dapat bertahan terhadap metode sejarah.

Kesadaran keagamaan adalah bentuk kesadaran yang lintas kelas, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian-penelitian. Asumsi bangunan-bawah bangunan-atas itu terlalu banyak pengecualian untuk menjadi hukum.

Hukum-hukum sosial terlalu bersifat mekanis, padahal metode sejarah itu bersifat terbuka dan hanya tunduk pada fakta. Metode sejarah mengharuskan orang untuk berhati-hati. Dengan metode sejarah, orang tidak boleh menarik kesimpulan yang terlalu berani.

Baca Juga  Pengertian Sejarah: Tinjauan Secara Etimologis dan Terminologis

Misalnya, dengan penelitiannya yang detail, sejarah tidak dapat menyimpulkan bahwa Sang Merah Putih telah berkibar di Indonesia 6.000 tahun. Juga bahwa Indonesia telah dijajah Belanda selama 350 tahun ternyata tidak sesuai dengan kenyataan sejarah.

Referensi:

Kuntowijoyo. 2018. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *