Peran PSK dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Oleh: Teja Hariwijaya

sengkala – Saat kita mendengar kata PSK, mungkin banyak dari kita akan mencibir dan berpikiran negative tentang mereka. Memandang mereka sebagai pekerja kotor yang penuh dengan dosa atau bahkan penyakit masyarakat.

Kita tau, Pekerja Seks Komersial (PSK) merupakan salah satu elemen masyarakat yang sulit dipisahkan. Saat seseorang menukar jasa seksual untuk uang pastinya akan ada implikasi sosial yang ditimbulkan baik dari sisi positif ataupun negative.

 Meskipun sempat diperhalus jadi berbagai istilah diberikan untuk penjaja seks. Sebutan pelacur dan cabo serta Wanita Tuna Susila (WTS).  Istilah itu pun masih diperhalus lagi menjadi PSK (pekerja seks komersial).

Pada masa kolonial disebut ‘wanita publik’. Istilah ini diberikan karena mereka bebas dimiliki pria yang membayarnya.

Jauh sebelum kedatangan orang Barat. Prostitusi sudah dikenal sejak zaman pemerintahan feodal kerajaan Jawa. Pada saat itu, perempuan dipandang sebagai barang dagangan.

Sistem feodal pada masa itu telah membentuk landasan bagi perkembangan industri seks yang ada sekarang ini.  Saat ini PSK dianggap menjadi bagian komoditas ekonomi penting untuk mendatangkan keuntungan finansial yang sangat menggiurkan.

Pada masa penjajahan, bentuk industri seks yang terorganisasi berkembang pesat. Ini terlihat dengan adanya sistem perbudakan tradisional dan perseliran yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Eropa.

Umumnya aktivitas ini berkembang di daerah-daerah sekitar Pelabuhan. Jauh dari tempat tinggal, keluarga, kesepian, dan lebarnya jarak sosial dengan penduduk asli, sangat mempengaruhi keadaan psikologis orang-orang Eropa di Hindia Belanda pada saat itu.

Para prajurit atau pegawai administrasi Belanda sering kali menghadapi kejenuhan terhadap pekerjaan rutin mereka. Dalam situasi demikian mereka mencari hiburan, salah satunya dengan melepaskan hasratnya pada gadis-gadis pribumi. Sejak saat itulah prostitusi dan PSK menjamur di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga  Vaksinasi Edward Jenner dalam Pengobatan Cacar (1749-1823)

Perebutan kemerdekaan Indonesia tidak hanya melibatkan para pejuang bersenjata, namun ada para revolutioner lainnya yang juga turut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Salah satunya adalah para perempuan Pekerja Seks Komersial (PSK). Mungkin sedikit terdengar aneh, bagaimana mungkin PSK yang selama ini dipandang negative, justru memiliki andil dalam melawan penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan.

Selanjutnya bagaimana PSK memainkan perannya dalam dalam perjuangan bangsa Indonesia?

Kebutuhan manusia salah satunya adalah kebutuhan bilogis (seks). Ini merupakan merupakan suatu hal yang wajar adanya. Seperti halnya makhluk lain, manusia pun memiliki nafsu dan hasrat. Atas dasar hal tersebut, beberapa tokoh pergerakan akhirnya menggunakan jasa para PSK untuk menyerang dan melemahkan penjajah.

Revolusi Kemerdekaan juga memerlukan senjata. Untuk mendapatkan senjata-senjata itu, bangsa Indonesia tidak hanya mengandalkan jaringan penyelundup maupun pedagang. Mereka juga membutuhkan banyak tangan agar persenjataan itu bisa sampai ke tangan para pejuang dengan aman.

Untuk melancarkan semua itu, para tokoh pergerakan mengandalkan para PSK untuk masuk dan menggoda para tentara musuh untuk selanjutnya secara diam-diam mengambil senjata-senjata mereka.

Selain  menjadi kepanjangan tangan dari para tokoh pergerakan, mereka juga menjadi kuping dari para pejuang, menjadi mata-mata, menjadi teman minum dari para tentara musuh. Mengajak mereka berbicara dengan maksud menggali informasi-informasi serta apa yang akan mereka lakukan selanjutnya terhadap orang-orang pribumi.

Selain itu dituliskan, saat tentara Jepang banyak memperkosa gadis-gadis yang tidak bersalah di Minangkabau, Bung Karno mengirimkan 120 PSK. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan para remaja dan gadis di sana dari kesewenang-wenagan para tentara Jepang.

Selain itu jugga, untuk mendapatkan informasi tentang Jepang melalui mereka. Kemudian tempat tinggal mereka yang disebut Rumah Bordil kerap kali digunakan untuk tempat persembunyian bagi para tokoh pergerakan sekalgus tempat penyelundupan senjata.

Baca Juga  Menghayati Kembali Asal-Usul Istilah Ngabuburit

Inilah beberapa peran yang nampak nyata kepermukaan dari mereka yang kadang samapi hari ini pun masih banyak diantara kita yang mengaggap mereka dengan stigma miring.

Banyak dari mereka yang terjerumus ke dalam dunia gelap itu dengan berbagi factor. Ada yang karena kebutuhan ekonomi, dan ada juga yang tumbuh karena lingkungan.

Kita tidak pernah tau secara pasti apa dan bagaimana perasaan dan isi hati mereka sebenarnya.

Seperti yang terdapat dalam sebuah lirik lagu yang ditulis oleh Titiek Puspa dan dinyanyikan kembali oleh band kenamaan Peterpan dengan berjudul kupu-kupu malam “kadang dia tersenyum  dalam tangis, kadang dia menangis di dalam senyuman”.

Sejarah akan mencatat bahwa mereka para PSK para Wanita Tuna Suslia (WTS) merupakan informan penting. Di mana informasinya sangat membawa pengaruh bagi proses perlawanan para tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Jangan nilai siapapun hanya dari luarnya saja, ini sebagai contoh bahwa mereka yang dipandang negative juga memiliki peran positif dalam proses perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Sejatinya setiap manusia ingin hidup damai, ingin hidup tenang dirumah dan tanahnya sendiri begitu pun para PSK tersebut.

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *