Nuklir: Energi Alternatif Masa Depan, Harapan dan Tantangan

Oleh: Sarip Hidayatuloh

sengkala – Uji coba nuklir Korea Utara pada 9 Oktober 2006 lalu membongkar kembali ingatan dunia internasional akan uji coba nuklir yang dilakukan oleh negara-negara pemilik senjata nuklir sebelumnya.

Reaksi keras, ketakutan, dan kekhawatiran akan dampak uji coba nuklir ini mengundang beragam pihak melakukan reaksi yang berbeda terhadap Korea Utara. (Yustiningrum, n.d: 19).

Sebelumnya Iran sempat mengguncang dunia dengan pernyataannya mengenai kepemilikan senjata nuklir sekaligus pengayaan senjata nuklir yang terus dilakukannya.

Senjata nuklir pada dasarnya merupakan masalah klasik dalam hubungan internasional. Sejak dimunculkan pertama kali oleh Amerika Serikat dalam Perang Dunia II dalam bentuk bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki bulan Agustus 1945, senjata nuklir menjadi momok yang menakutkan bagi komunitas internasional.

Setiap pembahasan mengenai kepemilikan, pengayaan, dan uji coba senjata nuklir selalu mengundang kontroversi di tingkat internasional karena merupakan ancaman terhadap perdamaian internasional.

Masa depan komunitas internasional akan sangat dipengaruhi oleh interaksi antara negara pemilik senjata nuklir, negara non-pemilik senjata nuklir, dan upaya internasional untuk melarang uji coba senjata nuklir.

Senjata nuklir yang dimiliki negara maju diawali oleh Amerika Serikat sejak diluncurkan pertama kali tahun 1945. Hingga tahun 1997, Amerika Serikat telah melakukan 22 kali uji coba nuklir di Nevada Test Side hingga yang terbaru tanggal 23 Februari 2006.

Sementara itu, Inggris selama ini melakukan uji coba nuklir di Nevada Test Side dan belum memiliki wilayah sendiri untuk melakukan uji coba nuklir. Uji coba nuklir yang pertama tahun 1952 dan terakhir tahun 1991.

Prancis melalui Presiden Jacques Chirac mengumumkan bahwa negara ini melakukan delapan uji coba nuklir di Mururua Atoll di Pasifik Selatan yang dimulai tanggal 13 Juni 1995 hingga akhir Mei 1996.

Kalangan militer Prancis menginginkan uji coba nuklir ini untuk menguji hulu ledak nuklir, memvalidasi hulu ledak nuklir baru, dan membangun sistem komputer untuk mengalihkan uji coba nuklir menjadi lebih aman untuk lingkungan.

Di sisi lain, media massa Rusia melaporkan bahwa negara ini telah melakukan uji coba senjata nuklir volume rendah di Novaya Zemla, Artic, antara tahun 1996 hingga 1999.

Cina telah melakukan uji coba nuklir tanggal 5 Desember 1993. Pemerintah Cina menyatakan bahwa uji coba nuklir yang dilakukannya sebanyak 39 kali sebagaimana dilaporkan terhadap Sekretaris Jenderal PBB Boutros Ghali.

India, melalui Perdana Menteri Atal Behari Vajpayee, menyatakan bahwa negara ini telah melakukan tiga kali uji coba nuklir tanggal 11 Mei 1998. Hal ini diperkuat oleh Pemerintah India yang menyatakan bahwa uji coba nuklir yang dilakukan menggunakan komponen yang terpisah, volume rendah, dan peralatan termonuklir.

Pakistan mengumumkan bahwa negara ini telah melakukan lima kali uji coba nuklir pada 28 Mei 1998 dan keenam kalinya pada tanggal 30 Mei 1998. Uji coba nuklir yang dilakukan menggunakan peralatan berbobot terendah mulai dari nol hingga beberapa kilo ton dan bobot tertinggi mulai dari dua hingga empat puluh lima kilo ton (Medalia, 2006).

Semakin maraknya protes internasional akan bahaya senjata nuklir tidak hanya bagi yang terkena dampak secara langsung maupun bagi negara-negara yang wilayah udaranya dapat terkena debu radio aktif, membuat komunitas internasional berupaya mencegah laju uji coba nuklir.

Baca Juga  Peran PSK dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Upaya ini dimulai dengan kesepakatan Limited Test Ban Treaty tahun 1963 untuk mengurangi dampak konfrontasi Amerika Serikat melawan Uni Soviet dalam Cuban Missile Crisis tahun 1962.

Kesepakatan selanjutnya adalah The Threshold Tesl Ban Treaty tahun 1974 yang merupakan upaya pelarangan uji coba nuklir di bawah tanah.

Pelarangan uji coba nuklir terus mengalami perkembangan dan kemajuan dengan ditandatanganinya The Peaceful Nuclear Erplosion Treaty tahun 1976 yang melarang uji coba nuklir menggunakan ledakan dengan batas minimal 150 kilo ton asalkan digunakan untuk tujuan damai.

Kesepakatan ini mendapatkan reaksi dari Amerika Serikat yang menekankan untuk membentuk kesepakatan baru tentang pelarangan uji coba nuklir komprehensif yang akhirnya menjadi Comprehensive Test Ban Treaty (CTBT) yang melarang segala uji coba nuklir menggunakan ledakan (Yustiningrum, n.d: 22).

Kesepakatan CTBT ini yang melarang segala bentuk uji coba nuklir menggunakan ledakan. Sayangnya himbauan ini tidak berlangsung lama karena muncul argumen pentingnya uji coba nuklir untuk mempertahankan pemanfaatan senjata militer yang dimiliki membangun teknologi senjata militer baru dan tujuan damai yang lain

Upaya pelarangan uji coba nuklir ini disambut baik oleh PBB yang menghimbau komunitas internasional untuk meratifikasi CTBT. Akhirnya sebanyak 176 negara telah menandatangani CTBT dan 132 negara meratifikasi CTBT tanggal 21 Juni 2006.

PBB melanjutkan upaya pelarangan senjata nuklir ini melalui Konferensi Perlucutan Senjata yang menjadi upaya diplomasi multilateral dan forum negosiasi komunitas internasional. Konferensi ini telah dilakukan sebanyak empat kali.

Mandat dari Konferensi Perlucutan senjata ini adalah pelaksanaan traktat Nuclear Nonproliferation Treaty (NPT) yang sebenarnya telah disepakati tahun 1970. NPT berisi ketetapan bahwa dunia dibagi dua bagian.

Pertama, negara-negara Permanent Five (P5) yang merupakan negara utama pemilik senjata nuklir (Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, dan Cina) yang juga anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Kedua, negara-negara non-pemilik senjata nuklir yang menempatkan CTBT sebagai dasar untuk mengontrol penyebaran senjata nuklir.

Uji coba nuklir yang dilakukan negara non P5 merupakan bentuk eksistensi diri. Hal ini telah dibuktikan oleh India, Pakistan dan yang terakhir oleh Korea Utara ketika masalah nuklir dilihat sebagai masalah yang mengganggu masa depan dunia maka perlu ditinjau lebih dalam posisi senjata nuklir yang membahayakan bagi dunia internasional ini.

Di tingkat nasional keamanan secara tradisional diterjemahkan sebagai respons atas ancaman yang datang dari luar dalam bentuk serangan militer. Sebenarnya masalah senjata nuklir ini berkaitan erat dengan diplomasi dan keamanan.

Ketika suatu negara melihat masalah keamanan maka akan dilihat dari dua sisi yaitu internal dan eksternal.

Keamanan eksternal berkaitan dengan adanya ancaman dari luar negara baik yang berupa militer. Namun saat ini yang menjadi ancaman negara tidak hanya dalam bentuk militer namun berupa organisasi kriminal lintas negara, pengungsi korban konflik dan penyebaran senjata serta uji coba nuklir.

Dalam konteks ini diplomasi berperan sebagai upaya untuk membentuk kekuatan negara melawan ancaman dari luar yang melibatkan tindakan-tindakan seperti menyerang balik membangun koalisi dan menggalang dukungan internasional untuk menggunakan kekuatan militer terhadap ancaman dari luar (Barston, 1988: 185).

Baca Juga  Prasasti Ciaruteun

Melalui diplomasi ini maka masalah keamanan akan teratasi baik melalui kerja sama dengan negara superpower maupun menggunakan forum untuk dukungan internasional. Diplomasi keamanan untuk mengatasi bahaya uji coba nuklir merupakan bentuk upaya agar masalah ini tidak semakin parah dan membahayakan masa depan perdamaian internasional.

Uji coba nuklir yang dilakukan Korea Utara tanggal 9 Oktober 2006 lalu merupakan bentuk ancaman terbaru atas masalah senjata nuklir yang selama ini terus diupayakan penyelesaiannya.

Ini merupakan pembuktian atas kebijakan Juche yang artinya pertahanan diri, sebagai bentuk pertahanan diri Korea Utara atas bahaya dari luar, upaya diplomasi agar suaranya didengar oleh komunitas internasional, sekaligus pelaksanaan politik luar negerinya (Yustiningrum, n.d: 26).

Uji coba nuklir Korea Utara juga merupakan pelaksanaan kebijakan Songun yang artinya mengutamakan kepentingan tentara yang juga representasi kediktatoran militer dari pernerintah Kim Jong II (diakses dari http://www.globalsecurity.org/military/world.dprk/songun-chonci.htm).

Pihak-pihak yang ketakutan akan dampak uji coba nuklir Korea Utara segera memberikan reaksi keras. PBB mengeluarkan Resolusi 1718 yang isinya melarang aktivitas nuklir Korea Utara.

Amerika Serikat awalnya bersikap keras namun belakangan menyatakan masalah nuklir ini akan dibahas dalam diplomasi multilateral.

Cina memilih sikap lunak karena kebijakan Xiaokang membutuhkan kondisi internasional yang stabil untuk mendukung perekonomian dalam negeri (Park, 2005).

Korea Selatan juga bersikap lembut karena kebijakan Peace and Prosperity menuju penyatuan kedua negara Korea. Sementara Rusia juga menentang opsi penggunaan kekuatan militer PBB untuk mengatasi nuklir Korea Utara. Hanya Jepang yang tetap bersikap keras agar PBB menjatuhkan sanksi keras terhadap Korea Utara (Yustiningrum, n.d: 30).

Percobaan senjata nuklir buatan manusia telah menambah radio aktivitas yang telah ada secara alami dalam skala dunia. Walaupun percobaan senjata nuklir dikurangi secara besar-besaran sejak tahun 1962, ketakutan akan perang nuklir tetap ada.

Selain penggunaan nuklir sebagai senjata yang menghadirkan kepanikan warga dunia. Perbaikan dan pengembangan tenaga nuklir sebagai pengganti bahan bakar fosil, batu bara, dan juga sebagai pembangkit listrik perlu untuk dilakukan.

Di sisi lain pemanfaatan nuklir dapat menjadi solusi di saat mulai berkurangnya Sumber Daya Alam seperti fosil, batu bara dan sebagainya, akan tetapi dalam satu sisi resiko yang akan terjadi juga perlu menjadi pertimbangan.

Kecelakaan nuklir yang paling parah dalam sejarah industri nuklir terjadi pada tanggal 26 April 1986 di Unit 4 reaktor instalasi daya nuklir Chernobyl di negara yang dulu dikenal sebagai Republik Ukrainian, Soviet Union.

Ledakan yang menghancurkan pengungkung dan struktur inti reaktor menimbulkan kebakaran selama 10 hari dan menyebabkan terjadinya pelepasan sejumlah besar materi radioaktif ke lingkungan.

Awan yang berasal dari reaktor yang terbakar tersebut menyebarkan berbagai jenis radionuklida, terutama yodium (131 I) dan cesium (137Cs), ke hampir seluruh bagian Eropa (Alatas, 2006: 79).

Akibat peristiwa itu radioaktif yang lepas mengakibatkan terjadinya pencemaran yang luar biasa terhadap air, udara dan tanah.

Pencemaran tersebut terus menjalar hingga pada makanan. Konsumsi makanan yang terkontaminasi radioaktif yodium menyebabkan paparan radiasi yang nyata pada kelenjar tiroid penduduk yang tinggal di daerah terkontaminasi (Alatas, 2006: 81).

Baca Juga  Asal Usul Burkak: Pakaian Tradisional Afghanistan

Di antara lebih dari 4000 kasus kanker tiroid yang didiagnosis pada tahun 1992-2002 pada individu yang saat terjadi kecelakaan adalah anak-anak atau remaja, telah terjadi 15 kematian sampai tahun 2002 akibat kanker tiroid.

Peningkatan kasus leukemia, kanker, dan penyakit sistem sirkulasi akibat radiasi telah dilaporkan terjadi pada petugas kedaruratan dan liquidators di Rusia.

Berdasarkan data dari Russian Registry, pada tahun 1991-1998, dari 61.000 pekerja Rusia yang terpapar radiasi dengan dosis rerata 107 mSv, sekitar 5% mengalami kematian sebagai konsekuensi dari paparan radiasi (Alatas, 2006: 82).

Bencana nuklir yang terbaru terjadi pada tanggal 3 Maret 2011 di Fukushima Jepang. Gempa berkekuatan 8,9 skala richter mengguncang wilayah selatan pantai Jepang yang diikuti oleh terjadinya tsunami.

Gempa dan tsunami memicu terjadinya kecelakaan reactor nuklir Fukushima. Terjadinya bencana alam dan bencana teknologi secara bersamaan yang dikenal dengan bencana 3/11 merupakan bencana terbesar dalam sejarah Jepang (Sarjiati, 2018: 47).

Fukushima Prefecture merupakan daerah terparah yang terpapar radiasi nuklir. Kota Okuma, Futaba, Tamioka, dan Namie menjadi daerah terlarang karena tingkat kontaminasinya sangat tinggi.

Paparan radiasi dengan tingkat yang tinggi di Fukushima Prefecture menyebabkan penduduk lokal mengungsi ke beberapa daerah. Hingga tanggal 29 Agustus 2011 jumlah pengungsi dari 12 daerah di Fukushima Prefecture mencapai 146.520 orang.

Pencemaran zat radioaktif yang dilepaskan oleh reaktor nuklir Fukushima dapat melalui udara, air hujan yang mengandung partikel zat radioaktif, dan air laut.

Oleh karena itu, zat radioaktif tidak hanya mencemari Fukushima Prefecture saja, namun juga beberapa daerah di Jepang. Bahkan zat radioaktif berhasil dideteksi di beberapa negara seperti Filipina dan Amerika.

Menurut laporan WHO yang dirilis pada bulan Februari 2013 menyebutkan bahwa jumah penduduk Fukushima yang menderita kanker diperkiraan akan meningkat akibat dari paparan radiasi nuklir sehingga diperlukan monitoring dalam jangka panjang. Selain itu, dampak bencana nuklir terhadap gangguan psikologi perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah (World Health Organization, 2012).

Pembangunan tenaga nuklir untuk maksud damai berjalan terus dan harus dipercepat, karena persediaan bahan bakar fosil (seperti bensin, minyak tanah dan lain-lain) sudah menipis.

Hal ini berarti dengan bertambahnya tenaga nuklir, kekurangan energi listrik dapat diatasi. Akan tetapi volume limbah radioaktif harus diantisipasi, dipantau dan dikendalikan, seperti yang harus dilakukan terhadap bahan berbahaya dan beracun.

Refrensi

Alatas, Zubaidah. 2006. “Konsekuensi Kecelakaan Reaktor Chernobyl Terhadap Kesehatan Dan Lingkungan.” Buletin Alara 7 (3): 79–87.

Barston, R.P. 1988. Modern Diplomacy. UK: Longman House Harlow.

http://www.globalsecurity.org/military/world.dprk/songun-chonci.htm. n.d. “No Title.” http://www.globalsecurity.org/military/world.dprk/songun-chonci.htm.

Medalia, Jonathan. 2006. “Nuclear Weapons Comprehensive Test Ban Treaty.” CRS Issue Brief for Congress Order Code 11392099, 2006.

Park, John. S. 2005. “Inside Multilateral Ism The Six Party Talks.” The Washington Quarterly Autumn, 75–91.

Sarjiati, Upik. 2018. “Risiko Nuklir Dan Respon Republik Terhadap Bencana Nuklir Fukushima Di Jepang.” Jurnal Kajian Wilayah 9 (1): 46–61.

World Health Organization. 2012. “Preliminary Dose Estimation from Nuclear Accident after the 2011 Great East Japan Earthquake and Tsunami. Geneva.” World Health Organization (WHO). 2012. https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/44877/9789241503662_eng.pdf;jsessionid=5E5E0A1002AF3FF72FD1E86997C2BC45?sequence=1.

Yustiningrum, RR. Emilia. n.d. “Masalah Senjata Nuklir Dan Masa Depan Perdamaian Dunia,” 19–32.

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.