Dewi Sartika Ibu Pendidikan dari Pasundan

Oleh: Teja Hariwijaya

sengkala – Sama dengan kota-kota di Indonesia lainya, Bandung yang kala itu terkenal dengan sebutan Paris van Java menjadi salah satu kegiatan kolonial Belanda setelah Batavia. rakyat Parahiyangan dan Jawa Barat hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan.

Hal ini disebabkan mereka tidak pernah mengenyam pendidikan, kecuali beberapa orang anak pegawai Belanda atau golongan ningrat. Selain itu hasil bumi rakyat Indonesia dirampas untuk kepentingan penjajah Belanda.

Seperti halnya Jawa tengah dengan kisah Kartini, Jawa Barat pun memiliki sosok tokoh perempuan yang sama halnya dengan beliau, sosok yang berpikiran maju serta mau keluar dari cengkraman penjajah. Beliau adalah Raden Dewi Sartika.

Raden Dewi Sartika merupakan anak dari bangsawan, ia terlahir dari pasangan Raden Rangga Soemanegara dan Raden Ayu Rajapermas. Karena itu, tak heran ia menyandang gelar Raden di depan namanya yang merupakan gelar bagi keluarga priyayi atau bangsawan Sunda di masa lampau.

Masa kecil Dewi Sartika pun cukup pelik. Sebab, kedua orang tuanya merupakan pejuang yang menentang pemerintahan Hindia-Belanda. Mereka bahkan mendapat hukuman dari pemerintah Hindia-Belanda dan diasingkan ke Ternate.

Sehingga, Dewi Sartika harus merasakan kehidupan masa kecil dengan jauh dari orang tuanya. Bahkan, orang tuanya kemudian meninggal saat ia masih kecil.

Dewi Sartika kemudian diasuh oleh sang paman yang merupakan kakak kandung dari ibunya. Sang paman bernama Aria yang merupakan patih di Cicalengka, dan dari sinilah dia mulai mengenal dunia pendidkan.

Lahir dari keluarga menak sekaligus pejuang membuat dia bukan hanya mendapatkan fasilitas pendidkan yang layak namun memiliki rasa nasionalime yang tinggi.

Selain itu garis keturunan, berawal dari tinggalnya beliau dengan paman yang merupakan pejabat tentunya memiliki selir dan beberapa pegawai dimana gelar bangsawan yang melekat tak membuatnya rishi untuk bergaul dengan para pegawai yang bisa dikatakan tidak setara dengan beliau.

Baca Juga  Asal-Usul Munggahan dalam Tradisi Masyarakat Sunda

Dari sana juga beliau mendengar, melihat, bahkan sedikit banyaknya ikut mengalami apa yang dirasakan oleh para rakyat pribumi khusnya kaum perempuan.

Kepedulian Dewi Sartika nampaknya mulai tumbuh saat dia kecil, hal ini terbukti bahwa sejak dia berusia sembilan tahun dia mulai aktif membagi ilmu membacanya kepada teman-teman seusianya yang tidak mendapatkan kesemptan untuk bersekolah dan sejak saat itulah ia jatuh cinta pada dunia pendidikan dan berkeinginan untuk menjadi guru.

Sebagai seorang Wanita yang hidup pada masa itu tentu dia sadar betul akan benturan akan norma dan tidak mendapatkan hak secara penuh layaknya mereka yang lahir dari keturunan menak dan priyai.

Dimana perempuan hanya belajar tentang ilmu-ilmu rumah tangga dan hal-hal sederhana karena anggapan pada masa itu bahwa perempuan hanya akan bernasib sebagai ibu rumah tangga yang hanya mengurus rumah, mengurus anak dan suami.

Ditambah lagi bahwa kehidupan perempuan pada masa itu hanya bergantung pada sosok laki-laki. Dalam artian perempuan harus tunduk dan patuh bahkan harus rela jika dipoligami.

Hal ini membuat sosok Dewi Sartika merasa khwatir dan miris. Atas landasan tersbut akhirnya Pada 16 Januari 1904, dia mendirikan sekolah istri atau sekolah untuk perempuan di Bandung.

Tujuan didirikannya sekolah ini agar kelak anak-anak yang belajar di sana dapat dengan sendirinya memenuhi kebutuhannya serta memiliki wawasan yang luas agar mampu tampil di tengah masyarakat sebagai Wanita terhormat.

Sekolah ini merupakan sekolah pertama di masa Hindia-Belanda yang didirikan untuk perempuan dari kalangan rakyat biasa.

Selama mendirikan sekola istri, banyak hambatan dan tantangan yang dihadapi oleh Raden Dewi Sartika. Mulai dipersulitnya perizinan hingga stigma negative dari pemerintah colonial dan sebagian masyarakat pasundan.

Baca Juga  Seperti Apa Kita Mengenal Kartini?

Namun, karena semangat yang diiringi hati yang tulus untuk memberikan ilmu akhrinya sekolah ini dapat berdiri dan berkembang.

Pada tahun 1910, Sekolah Istri berganti nama menjadi “Sakola Kautamaan” Istri.  Sekolah Istri tersebut terus mendapat perhatian positif dari masyarakat. Murid- murid bertambah banyak, bahkan ruangan Kepatihan Bandung yang dipinjam sebelumnya juga tidak cukup lagi menampung murid-murid.

Untuk mengatasinya, Sekolah Istri pun kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih luas.

Kemudian pada 1913, berdiri pula organisasi Kautamaan Istri di Tasikmalaya. Organisasi ini menaungi sekolah-sekolah yang didirikan oleh Dewi Sartika.

Pada tahun 1929, Sakola Kautamaan Istri diubah namanya menjadi Sakolah Raden Dewi dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan sebuah gedung baru yang besar dan lengkap.

Pada akhirnya munculah di berbagai wilayah sekolah serupa dengan tujuan dan landasan yang sama persis seperti apa yang diawali oleh Dewi Sartika.

Dia berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, bisa berdiri sendiri, luwes, dan terampil. Maka untuk itu, pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya.

Untuk menutupi biaya operasional sekolah, ia membanting tulang mencari dana. Semua jerih payahnya itu tidak dirasakannya jadi beban, tapi berganti menjadi kepuasan batin karena telah berhasil mendidik kaumnya.

Pada tahun 1947, akibat agresi militer Belanda, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus malakukan perlawanan terhadap Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan.

Saat mengungsi inilah, tepatnya tanggal 11 september 1947, Dewi sartika yang sudah lanjut usia wafat di Cineam, Tasikmalaya Jawa Barat. Setelah keadaan aman, makamnya dipindahkan ke Bandung. Diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966.

Baca Juga  Manusia dalam Konsep Ruang dan Waktu dalam Sejarah

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.