Tantangan Radikalisme Agama di Indonesia

Oleh: Atiqah Mufidah Nur Niansah

sengkala – Radikalisme sangat erat berkaitan dengan pola pikir yang memengaruhi seseorang untuk melakukan aksi kekerasan.

Para penganut radikalisme agama akan meyakini bahwa pandangan mereka adalah representasi Islam yang sebenar-benarnya, sehingga siapa pun yang menentang ataupun tidak setuju dengan pandangan mereka wajib hukumnya untuk dilawan.

Inilah yang kemudian mereka sebut dengan jihad, padahal makna dari jihad sendiri merupakan ikhtiar dalam penegakan agama Allah SWT sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW dengan berlandaskan dengan apa yang ada dalam Al-Quran.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman, mulai dari keragaman suku, bangsa, bahasa, hingga agama. Oleh karena itu, pola pikir radikal tentu akan sangat berpengaruh dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di Indonesia.

Selain dari dalam negeri, tumbuhnya gerakan radikalisme di Indonesia juga dibarengi dengan adanya infiltrasi (pengaruh) dari luar. Indonesia sendiri memegang dasar negara berupa Pancasila, yang mana disebutkan pada sila pertamanya, “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Pada sila tersebut menggambarkan bahwa Indonesia sangat terbuka dengan keberagaman agama yang ada dan tidak mengikat atau mengharuskan seseorang untuk mengikuti agama sesuai ketetapan pemerintah.

Terjadinya berbagai gerakan radikalisme di Indonesia tidak terlepas dari faktor stabilitas politik yang cenderung rendah dan maraknya tindakan diskriminatif yang terjadi.

Penegakkan hukum seakan-akan hanya berlaku bagi rakyat kecil, sedangkan pemerintah adalah golongan manusia yang “kebal hukum”. Bahkan, banyak pengamat yang menilai bahwa hukum di Indonesia ini seolah tajam kebawah dan tumpul ke atas.

Timbulnya radikalisme juga disebabkan oleh kurangnya pengetahuan agama dan kesombongan yang menjadi akar bid’ah dan perpecahan umat.

Hal tersebut yang pada akhirnya dapat secara perlahan menggiring masyarakat ke arah perselisihan internal maupun perpecahan.

Baca Juga  SEJARAH PANDEMI THE BLACK DEATH EPIDEMI PENYAKIT DENGAN MORTALITAS TINGGI DI SELURUH DUNIA YANG PERNAH ADA

Peran agama di lingkungan masyarakat sendiri adalah untuk memberi tanggapan, menyediakan dukungan bagi setiap pemiliknya, dan sebagai pelipur lara bagi masyarakat yang membutuhkan rekonsiliasi.

Selain itu, agama juga turut menyediakan sarana emosional penting yang dapat membantu seseorang dalam menghadapi kegagalan yang mengakibatkan suatu kekecewaan serta kebimbangan.

Singkatnya, agama akan memberi dukungan dengan menopang nilai yang telah terbentuk untuk memperkuat moral dan mengurangi kebencian.

Agama tidak akan tenggelam dalam politik dan politik juga tidak dapat memperalat agama. Harus ada independensi dan jarak sehingga dapat dijalankan tanpa bercampur aduk.

Dalam situasi seperti ini, interaksi antar agama dan politik akan menekankan dinamisme dan perubahan yang dituju, dimana kehidupan bersama akan lebih manusiawi dan lebih adil.

Sebaliknya, tanpa kedua fungsi tersebut, agama akan mudah menjadi alat untuk melegitimasi atau diperalat oleh praktek-praktek politik, ekonomi dan hukum yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Pemahaman yang kurang lengkap dan kurang mendalam pada suatu ajaran hanya akan memberikan pemahaman yang setengah-setengah pula.

Kini sudah saatnya umat Muslim merekonstruksi penafsiran radikal agar tidak ada lagi kesalahpahaman yang kemudian menjadikan penafsiran radikal tersendiri bahkan hingga melakukan tindakan radikal dengan mengatasnamakan perintah agama.

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.