Peritiwa Berdarah 7 Juli 1919 di Cimareme Garut

Oleh: Sarip Hidayatuloh

sengkala – H. Hasan adalah sosok tertua kampung Cimareme yang bersahaja. Beliau adalah orang yang paham ilmu agama. Beliau sosok yang dihormati dan disegani oleh penduduk kampung.

Keseharian H. Hasan adalah bertani. Tampaknya beliau memiliki hubungan kekerabatan dengan menak kabupaten Garut. Sehingga beliau memiliki tanah dan sawah yang cukup luas.

Puluhan orang anggota keluarga dan penduduk Cimareme menggantungkan hidupnya dengan bekerja di lahan sawahnya. Beliau adalah sosok agamis yang mengamalkan tasawuf dan ajaran tarekat sattariyyah (Soekapoera, No. 1, 2016: 40).

Pada bulan April 1919, lurah Cikendal diperintah R. Ijos Wiraatmadja (Wedana Leles) untuk mengambil buku C.C. dari orang-orang yang memiliki lahan sawah lebih dari 1 bau.

Berdasarkan keterangan lurah, aturan kebijakan padi itu menetapkan, bagi siapa saja yang memiliki lahan sawah 1-2 bau harus menjual 1 pikul, untuk lahan sawah seluas 2-3 bau harus menjual 2 pikul, untuk lahan sawah 3-4 bau harus menjual 3 pikul dan seterusnya 4 pikul. Oleh pemerintah desa, perpikul padi itu dibeli f.4.50, dan dijual f.5, sementara f.0.5 digunakan untuk ongkos angkut (Kaoem Moeda, No. 16, 1920: 2).

Berdasarkan perhitungan pameulian pare (pembelian padi). H. Hasan harus menjual 42 pikul padi kepada pemerintah. Namun beliau keberatan dan hanya mau menjual 10 pikul.

Pasalnya beliau harus menghidupi 83 orang. Keinginan H. Hasan itu disampaikan Lurah Cikendal, lalu Wedana Leles menolaknya (Soekapoera, No. 1, 2016: 40).

Pada tanggal 23 April 1919, juru tulis Wedana Leles bernama Tisna Winata, menyusul datang ke rumah H. Hasan, untuk menasehati H. Hasan agar tunduk pada aturan pemerintah yang mewajibkan dia menyerahkan 42 pikul hasil panennya.

H. Hasan tetap enggan menyerahkannya. Melalui juru tulis, menitipkan permohonan kepada Bupati Garut. H. Hasan pun sengaja menemui Bupati Garut waktu di Leles. Bupati mengabulkan permohonan H. Hasan untuk menjual 10 pikul saja. Dengan pertimbangan, H. Hasan harus memberi makan orang banyak.

Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, berdasarkan laporan Wedana Leles, H. Hasan hanya menghidupi 42 orang saja. Maka Bupati Garut melalui Wedana memerintahkan untuk menyampaikan kembali penolakan atas permohonan H. Hasan (Soekapoera, No. 1, 2016: 40).

Setelah dua bulan, Wedana Leles memerintahkan Lurah Cikendal bersiap untuk memeriksa H. Hasan dengan menyita (basleg) sawahnya, apabila tetap ngotot tidak mau menjual 42 pikul padi.

Lurah Cikendal tidak berani mendatangi sendiri H. Hasan, dan menyuruh H. Kadir dan H. Rasid untuk menyampaikan pesan Wedana itu. Sontak H. Hasan marah dan tidak mau menyerahkan hasil padi (Soekapoera, No. 1, 2016: 40).

Baca Juga  Sarekat Islam Afdeling B: Gerakan Rahasia di Tanah Priangan

Maka pada tanggal 25 Juni 1919, Wedana Leles melaporkan perihal berontaknya H. Hasan kepada Bupati Garut dan Asisten Residen Priangan Timur di Tasikmalaya.

Pada hari Kamis 3 Juli 1919, H. Hasan bicara kepada keluarganya, bahwa pemerintah akan menyita seluruh lahan sawahnya dan menandainya dengan bendera putih, artinya lahan tanahnya akan dirampas pemerintah dan hasil padinya akan dimasukkan paksa ke dalam lumbung.

H. Hasan dan H. Gozali (menantu H. Hasan) meminta bantuan H. Moegni untuk meminta dukungan dari H. Haromaen, kiyai terkemuka tokoh S.I. di Wanaraja Garut. Informasi itu pun disampaikan kepada H. Adra’i, seorang kiyai  tokoh S.I. afdeeling B di Balakasab, Babakan Loa, Wanaraja, Garut. Kedua kiyai itu pun sigap menggerakan jaringan anggotanya untuk bersiap memberikan bantuan kepada keluarga H. Hasan di Cimareme (Soekapoera, No. 1, 2016: 41).

Pada hari Jum’at tanggal 4 Juli 1919, Asisten Residen dan pejabat pemerintah Garut dikawal oleh 27 orang anggota polisi, datang ke rumah H. Hasan di Cimareme. Kedatangan Asisten Residen dan Bupati itu disambut oleh ratusan orang yang memakai baju putih-putih lengkap dengan senjata golok dan kelewang.

Disekitar rumah H. Hasan, baik laki-laki, pempuan, tua dan muda berkumpul dan berdzikir serta membaca ayat-ayat Al-Qur’an (Soekapoera, No. 1, 2016: 41).

Suasana di Cimareme begitu mencekam, riuh orang-orang di sana penuh dengan kegetiran. Sementara itu di halaman rumah H. Hasan, berbaris anak-anak kecil dengan memakai pakaian serba putih lengkap dengan senjata. Mereka berdiri untuk membentengi rumah H. Hasan (Soekapoera, No. 1, 2016: 41).

Pagi itu Bupati yang mendampingi Asisten Residen tiba di halaman rumah H. Hasan berteriak dengan keras, memerintahkan semua orang untuk berhenti dan meminta H. Hasan untuk keluar dari dalam rumahnya (Kaoem Moeda, No. 21, 1920: 2).

Bupati sangat berang, beliau berteriak kepada H. Hasan bahwa dia itu Bupati wakil Allah dan rasulullah dalam agama Islam. H. Hasan membalas kemarahan Bupati dan mengatakan bahwa Bupati bukan Khalifatullah, akan tetapi laknatullah (orang yang dilaknat Allah).

Bupati semakin marah dan masuk ke dalam rumah H. Hasan dan memintanya untuk melepaskan pakaian putih dan menyimpan senjatanya. Dalam pembicaraan itu H. Hasan tetap teguh meminta agar permohonanya dikabulkan.

Baca Juga  Happy Women' Day "Perempuan Itu Harus Saling Menguatkan, Jangan Saling Menjatuhkan"

H. Hasan pun menuliskan permohonan itu dihadapan Bupati dalam selembar kertas. Bupati pun mengiayakan permohonan H. Hasan.

Bupati meminta arahan Asisten Residen mengenai apa yang harus dilakukan dengan perlawanan H. Hasan itu. Asisten Residen memerintahkan supaya rombongan pemerintah pulang dan kembali lagi tanggal 7 Juli untuk menangkap H. Hasan (Soekapoera, No. 1, 2016: 42).

Pada hari Minggu 6 Juli 1919, tokoh-tokoh SI afd. B berkumpul dirumah H. Mochammad Djakaria (saudara H. Adra’i). Dalam pertemuan itu, kiyai Cilame membicarakan soal untuk membantu dan menolong keselamtan H. Hasan (Kaoem Moeda, No. 30, 1920: h.2).

H. Adra’i, meminta kepada semua yang hadir untuk turut membantu H. Hasan  Cimareme sebagai bukti kepedulian sesama Muslim. Banyak isim dan jimat yang dibuat untuk bekal keselamatan (Kaoem Moeda, No. 36, 1920: h.20).

Setelah itu mobilisasi untuk membantu H. Hasan Cimareme pun terus berjalan. Anggota SI banyak berdatangan ke Cimareme membawa kain putih dan senjata.

Pada hari Senin 7 Juli 1919, Asisten Residen, Bupati, Pejabat pemerintahan kabupaten dan Polisi Dienaar yang dipimpin oleh Major de Bie, datang kembali ke Cimareme untuk mengambil paksa H. Hasan  (Kaoem Moeda, No. 21, 1920: h.2).

Iring-iringan pejabat pemerintahan kolonial yang lengkap dengan serdadu bersenjata itu bergegas menuju rumah H. Hasan. Orang-orang berpakaian putih dan memakai senjata juga tampak lebih banyak dari hari sebelumnya.

Sepertinya mereka menunggu komando apa yang harus diperbuat untuk menolong. Di luar dugaan, Bupati Garut sangatlah agresif. Sesampainya di halaman rumah H. Hasan, bupati berteriak kepada seluruh orang yang ada di halaman rumah supaya keluar.

Sementara di dalam rumah H. Hasan, banyak orang terus berdzikir. Bupati semakin berang, dengan penuh amarah menginjak-nginjak tangga rumah dan berteriak menyuruh semua orang di dalam rumah untuk keluar.

H. Hasan dan keluarganya tetap tenang berdzikir di dalam rumah. Setelah itu, Bupati dan Asisten Residen memerintahkan kepada komandan pasukan bersenjata laras panjang itu untuk bertindak.

Selanjutnya sang komandan memberikan isyarat tembakan peringatan yang diarahkan ke atas. Semua orang yang berada di dalam rumah tetap saja tak bergeming. Para pejabat pemerintahan dan serdadu itu kehabisan kesabaran.

Para serdadu dengan membabi buta meletuskan tembakan dan membidikkan senjatanya ke arah bilik rumah H. Hasan. Kemudian Bupati membuka rumah H. Hasan, disusul kemudian oleh serdadu untuk memeriksa kondisi di dalam rumah.

Baca Juga  Memahami Konsep Jodoh dalam Pandangan Islam

Didapatkan 5 orang terkena luka tembak merintih kesakitan, 4 orang terkapar mati, dan 10 orang lainnya selamat. Mayat H. Hasan tergeletak bersimbah darah. Dua peluru tajam itu tepat bersarang diperut dan menembak kepalanya (Kaoem Moeda, No. 28, 1920: h.2). Setelah penembakan H. Hasan tidak ada pergerakan orang untuk melawan.

Polisi bergegas memeriksa rumah H. Hasan. Mengambil senjata dan berbagai hal yang bisa dijadikan barang bukti. Selain itu polisi menyita beberapa koleksi kitab milik H. Hasan diantaranya:

1). Kitab besar yang berisi, perhitungan bulan dan tanggal, pertingkahan aturan wudhu, pertingkahan aturan shalat, doa supaya mendapatkan keselamatan, ilmu buat menggarap sawah, wawacan kidung akan menolak balai, wawacan gandasari, wawacan yang menerangkan Nabi Muhammad dilahirkan, kalimah Qur’an;

2). Satu lembar doa saepi lanang;

3). Kitab doa saepi banyu;

4). Kitab kecil rupa-rupa saepi dan doa wudhu;

5). Kitab menerangkan pertingkahannya aturan dzikir tarekat satariyah;

6). Wawacan cerita damar wulan;

7). Wawcan cerita raja lahad;

8). Kitab dalail yang berisi shalawat kepada Nabi Muhammad memintakan pengasih dari Tuhan untuk Nabi Muhammad.

Sebenarnya, polisi itu mencari isim atau jimat sebagai barang bukti lain selain senjata tajam. Namun sayang, tidak satu buku pun bertluskan isim atau jimat (Bataviaasch Nieuwshblad, No. 162, 1920: h.1-2).

Setelah eksekusi mati H. Hasan, pemerintah kolonial memperlihatkan adidayanya kepada rakyat Priangan. Sepanjang akhir tahun 1919, aktifis SI di priangan merasakan keresahan  dan ketakutan.

Melalui tangan-tangan besi pejabat pribumi lokal, ratusan orang di setiap kewedanaan dipanggil paksa, diperiksa dan didakwa. Mereka diperiksa soal keterlibatannya dalam kasus rusuh di Cimareme.

Guna mengembangkan kasus itu, pemanggilan paksa dan pemeriksaan anggota SI juga dilakukan di kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, Bandung, dan Juga Cianjur.

Sumber:

H. Imael: “Meretas Jalan perang Sabil, Menabuh Genderang Perang, Berpikir Merdeka dalam Teks-teks lama Sora Merdika, Melawan Kolonialisme Melalui Syair Sunda” dalam Jurnal Soekapoera Institute. Vol 4. No 1. Tahun 2016. ISSN: 2338-4360.

Kaoem Moeda, 1920. Sarekat Islam Lokal, Penerbitan Sumber-sumber Sejarah No. 7. Jakarta: ANDRI, 1975.

Syam Aripin Iing, Marwoto Toto, Abdullah Dudung, Brata Rospia yat, Gunawan Agus, Runalan, Wijayanti yeni, Pajriah Sri, Lidinillah Endin, Kustiawan Awang, R. Dwi Adi, Rochlik Muhammad Dadang, Dimyati. D. Adang, Mujamil Miming, Widiyanti Tetet: “Kabupaten Ciamis dalam Sudut Pandang Senjarah dan Nilai Budaya”. Pemerintah Kabupaten Ciamis Dinas Pendidikan dan kebudayaan: 2014.

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.