Menggurui Diri dengan Jalan Bertualang Ke Masa Silam

Oleh: Sarip Hidayatuloh

Orang bijak pernah bilang, “pernahkah kamu ada di titik di mana hidupmu begitu teratur, melakukan segala yang kau mampu untuk seragam, berharap semua akan baik-baik adanya, namun tetap merasa ada yang hilang? Seolah ada satu kepingan puzzle yang tak juga melengkapi teka-teki yang kau ciptakan sendiri. Aku jawab pernah.

Tahun 2014, saya tersesat di jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Galuh. Sebuah jurusan yang tidak pernah sedikitpun saya pikirkan dan saya impikan ataupun saya niatkan untuk memasukinya. Saya masuk, karena sebuah kebingungan, masuk jurusan olah raga tidak bisa renang, masuk jurusan bahasa Inggris apalagi, masuk jurusan matematik ah yang benar saja bisa-bisa otakku heng terus disuruh ngitung, ya terpaksalah saya masuk jurusan sejarah yang tak perlu renang, berbicara bahasa Inggris, ataupun harus ngitung-ngitung pake rumus matematik yang memusingkan itu. Walaupun sebetulnya semua pemikiran itu salah. Karna di sejarah kamupun harus mampu berbicara bahasa asing, ada juga yang berhubungan dengan angka walaupun tak serumit matematik. Atau hanya sekedar berenang bagi yang sedang bosan belajar sejarah.

 Karena tidak diniatkan, awal studi saya di Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Galuh menjadi salah satu beban hidup yang cukup berat kala itu. Hari-hariku terasa sangat statis, semua berjalan tanpa kompromi, saya seolah terus dipaksa untuk menyukai sesuatu hal yang tak pernah sedikitpun ada dalam pikiranku selama ini yaitu berkuliah di jurusan Sejarah, ah berat rasanya.

Saya dituntut untuk datang ke kampus sesuai jam yang telah ditentukan, mengikuti perkuliah dan mendengarkan ceramah dosen yang rasanya sangat menjenuhkan. Tidak ada yang menarik untuk saya dengar rasanya. Selama itu waktu berjalan terasa sangat lambat. Yang ada dalam pikirku tiap harinya hanya ingin cepat keluar untuk sekedar mengakhiri penderitaan ini. Atau berteriak” Tuhan, tolong bebaskan aku dan hentikan semua ini, aku jenuh dan muak jika harus terus-terusan mendengarkan cerita mereka tentang kisah klasik masa lalu.” Namun, aku tak kuasa untuk mengungkapkannya, bisa-bisa aku di tabok, plak…. Ah sakit rasanya walupun hanya membayangkan.

Baca Juga  PERNAH MENDENGAR KATA "GOLDEN AGE"?? PENTING BAGI ORANG TUA/CALON ORANG TUA MEMAHAMI GOLDEN AGE

Alhasil, nilaiku di semester awal perkuliahan jeblok. Berbeda dengan teman-teman saya yang mendapatkan nilai baik semua.  Ada dua kemungkinan saya dapat nilai buruk, pertama, karena saya bodoh dan; kedua, karena teman-teman saya pintar. Tapi, sepertinya kedua kemungkinan tersebut benar, saya yang bodoh dan teman-teman saya yang pintar. Ah sungguh memalukan.

Beban itu terasa mulai ringan, setelah saya mendapat banyak pencerahan dari guru-guru saya. Sejak saat itu saya mulai dapat memahami dan menikmati sejarah. Saya mulai nyaman hidup di sejarah. Setiap mata kuliah sejarah yang disampaikan saya nikmati bagaikan mata air yang mengalirkan sumber-sumber peradaban dan meneteskan hikmah kebijakan.

Lambat-laun, banyaknya petualangan ke masa silam, menyelinap diam-diam dalam relung hati yang paling dalam dan menjalar ke urat nadi. Hati kecil saya mulai menerima sejarah sebagai bagian dari hidup saya. Dan akhirnya saya tersesat dalam dunia yang ternyata begitu indah, dan sebagaimana kata pepatah, belajar sejarah, membuat orang bijaksana.

Ini cerita saya saat berada di ambang kebimbangan dan terselamatkan oleh ketekunan. Mungkin ada banyak diantara sahabat semua yang pernah atau sedang berada pada situasi seperti yang saya alami. Sulit memang, tapi cobalah kalian menyelam lebih dalam lagi, karena permata yang paling indah ada di dasar lautan.

Tulisan ini saya buat telah lama, sesaat saya membuka kembali file-file lama, saya temukan dia di sana. Membaca tulisan sendiri seolah menyelami pikiran sendiri. Seperti Hamka yang sedang memberikan nasihat kepada dirinya sendiri sesudah selalu memberi nasihat kepada orang lain. Dia hendak mencari ketenangan jiwa dengan membaca buku yang ia tulis sendiri.

SELAMAT HARI GURU

Setiap orang adalah guru untuk dirinya sendiri

Baca Juga  Jenis-Jenis Kurikulum Pembelajaran

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.