Ibu Sebagai Arsitek Peradaban Bangsa

Oleh: Sarip Hidayatuloh

sengkala – Berbicara tentang perempuan, maka tidak akan pernah lepas dari pembicaraan tentang sosok ibu yang merupakan manifestasi dari perempuan itu sendiri. Bahasan mengenai perempuan banyak didiskusikan dalam beberapa bidang kajian, dalam forum-forum ilmiah, dalam ruang kelas, dan dalam moment-moment lainnya.

Namun sayangnya, bahasan perempuan ini ternyata lebih mengarah kepada perempuan sebagai obyek pemikiran, bukan menjadi subyek pemikiran yang terlibat langsung dalam wacana pemikiran tentang perempuan.

Pada tulisan ini, saya akan lebih banyak berbicara tentang peran ibu dalam melahirkan dan merawat peradaban. Sosok yang seringkali terabaikan oleh arogansi dan keserakahan kaum pria yang selalu memandang dirinya superior dan berdiri paling tinggi di atas segalanya.

Sangat disadari bahwa ibu memiliki peran dan kedudukan yang begitu penting dalam kehidupan manusia. Penduduk di dunia ini semua terlahir dari ibu, kecuali nabi Adam yang tidak dilahirkan dari seorang ibu. Posisi perempuan sebagai ibu inilah yang dapat menentukan arah, warna sejarah dan perjalanan suatu bangsa.

Perempun dikatakan sebagai arsitek peradaban bangsa ini maksudnya bahwa sebagai arsitek, tentu perlu upaya untuk mengonsep, merancang, dan merencanakan dengan baik sebuah bangunan. Dalam hal ini, arsitek adalah bagian penting dari penentu kualitas sebuah bangunan tersebut.

Artinya, perempuan sebagai ibu bangsa yang memiliki tugas dalam mempersiapkan generasi-generasi bangsa yang berkualitas yang nantinya akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang berperadaban. Oleh karena itu, ibu perlu memiliki pengetahuan dan pendidikan yang tinggi agar dapat mewujudkan cita-cita luhur dalam mewujudkan bangsa yang berperadaban tersebut.

Keliru rasanya, bila ada orang yang mengatakan bahwa kodrat seorang ibu/perempuan adalah Kasur dan dapur, sehingga perempuan itu harus pandai memasak, mencuci piring, ngepel lantai dan lain sebagainya.

Itu semua bukan kodrat perempuan. Kodrat perempuan hanya ada dua, yaitu “menstruasi dan melahirkan” selebihnya itu bukan kodratnya, karena laki-laki pun bisa melakukan itu.

Disadari atau tidak, meski pun sumbangsihnya dianggap tidak begitu nampak karena tidak langsung memberikan kontribusi nyata dalam ruang sosial layaknya para ilmuan dan para profesional yang terlibat langsung dalam upaya membangun peradaban bangsa, namun ibu bukan berarti tidak memberikan kontribusinya.

Baca Juga  Hubungan Antara Ilmu Pengetahuan dengan Nilai Etika dan Moral

Para ilmuawan dan para profesional tersebut, pastilah terlahir dari seorang ibu. Tentunya, mereka tidak lepas dari didikan dan arahan ibu juga, terutama pada masa-masa emas kehidupan mereka.

Kontribusi tersebut yang terkadang kurang begitu dipandang sehingga seringkali ketidak adilan selalu berpihak pada ibu dengan menganggap ibu tidak perlu memiliki pendidikan yang tinggi karena pekerjaannya hanya berkisar pada ranah domestik saja.

Saya pikir, pandangan konservatif inilah yang telah menghasilkan peradaban yang bobrok dan tak bermoral, karena ruang gerak ibu untuk mendapat pendidikan yang layak selalu dibatasi.

Sehingga pemahamannya tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etis sangat terbatas, yang pada akhirnya mereka hanya mewariskan pengetahuan dan pembentukan moral untuk anaknya hanya alakadarnya saja. Oleh karenanya generasi yang dihasilkan pun adalah generasi yang arogan, bengis, penuh nafsu, tak bermoral dan minim nilai-nilai kemanusiaan.

Anggapan keliru ini haruslah segera diakhiri. Justru jika ibu diberi tugas dalam ranah domestik, terutama dalam hal pengasuhan anak, maka butuh ibu-ibu hebat dan memiliki pendidikan yang tinggi agar dapat mendidik dengan baik putra-putrinya yang nantinya menjadi generasi penerus bangsa ini.

Ibu haruslah memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam meraih kesempatan pendidikan yang tinggi mengingat peran ibu yang sangat strategis bagi bangsa ini. Sebagai arsitek peradaban bangsa, ibu haruslah memiliki visi yang mantap dan jauh ke depan mengingat ibu adalah madrasah pertama bagi putra-putrinya yang nantinya akan menjadi aset peradaban bangsa.

Dua peran penting ibu, yakni sebagai ibu bagi generasi penerus bangsa dan juga sebagai pengelola rumah tangga menuntut adanya pendidikan yang memadai dari seorang ibu. Kita perlu menyadari dua tugas penting dari seorang ibu ini dan berupaya menyuarakan dan memperjuangkan hak-hak pendidikan bagi mereka.

Seorang ibu perlu memantaskan diri agar menjadi ibu yang hebat karena di pundaknya ada tanggung jawab sebagai arsitek, yakni arsitek peradaban. Ibu yang hebat akan melahirkan generasi yang hebat pula.

Baca Juga  Penting Bagi Kalian yang Ingin Mendaftar Kartu Prakerja untuk Mempertimbangkan Beberapa Hal Ini Agar Diterima

Dailatus Syamsiyah dalam artikelnya yang berjudul “Perempuan dalam Tantangan Pendidikan Global: Kontribusi Perempuan dalam Mewujudkan Millenium Development” menjelaskan bahwa proses pendidikan pada dasarnya lebih menekankan pada dimensi praktis-imitatif di mana seorang anak sejak kecil dibiasakan untuk melihat dan merasakan bagaimana orang tua melaksanakan tugas-tugasnya baik pada ranah domestik maupun publik.

Seorang ibu memiliki peranan yang sangat penting bagi pendidikan anak. Ibu terlibat secara aktif dan langsung dalam pendidikan anak. Hari ini di beberapa tempat, ibu memiliki tanggung jawab yang begitu besar.

Ibu tidak hanya memiliki tanggung jawab bagi pemenuhan kebutuhan hidup keluarga, tetapi juga memiliki tanggung jawab yang lainnya berupa pemenuhan kebutuhan anak-anaknya, baik kebutuhan jasmani dan rohani serta yang paling penting adalah pemenuhan keutuhan pendidikan mereka.

Pemenuhan kebutuhan ini tidak hanya sebatas memasukkan anak pada pendidikan formal saja, tetapi juga pendidikan di dalam keluarga. Pendidikan awal dalam keluarga oleh ibu inilah yang menjadi pondasi awal bagi pembentukan kepribadian dan intelektualitas anak.

Bagaimanapun, pendidikan begitu penting bagi ibu, meski pun ibu itu hanya menjadi ibu rumah tangga dalam keluarga. Ibu bisa dibilang sebagai arsitek utama bagi peradaban bangsa. Oleh karena itu, layaknya seorang arsitek, maka ia harus bisa merancang sebuah bangunan yang indah dan kokoh.

Merancang agar bagaimana bangunan tersebut bisa berdiri dengan tegak dan tak tergoyahkan. Sebagai arsitek peradaban dan yang turut serta dalam membangun dan mengukir sejarah bagi bangsa, dibutuhkan ibu-ibu tangguh dan berkualitas yang bisa melahirkan generasi-generasi yang tangguh dan berkualitas pula.

Ibu memiliki pengaruh yang luar biasa bagi kehidupan. Ibu-ibu yang berkualitas dengan berbekal pendidikan yang memadai akan menjadi seorang arsitek peradaban yang visioner.

Ia akan dapat membuat rancangan yang jelas dan berpikir progresif. Ibu sebagai arsitek peradaban bangsa haruslah menjadi ibu-ibu yang cerdas dalam berbagai hal, baik secara akademik, spiritual, emosional dan berkepribadian yang dapat menjadi uswatun hasanah baik bagi putra-putrinya, bagi keluarganya, maupun bagi orang lain.

Baca Juga  FILOSOFI PEREMPUAN DAN HIJAB

Ibu sebagai arsitek peradaban bangsa, selain cerdas juga harus memiliki kepedulian yang tinggi bagi sekitarnya. Ia harus sensitive dengan segala problematika yang ada di sekitarnya, menjadi penggagas bagi ide-ide baru yang kreatif dan inovatif sebagai upaya memecahkan problem masyarakat di sekitarnya.

Ibu harus bersemangat dalam mencari ilmu, karena ibu yang cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas pula. Namun, kecerdasan tersebut tentulah harus diimbangi dengan kemuliaan akhlaknya dan menjadi figur yang dapat menjadi teladan dan inspirasi bagi banyak orang.

Pemberian ruang pendidikan yang berkualitas dan setara dengan laki-laki akan menghasilkan ibu-ibu yang berkualitas dan berpikiran jauh ke depan. Bukan lagi yang hanya mampu berkumpul gajelas, arisan, selfie-selfie, tiktokan dan menggosif, serta hanya memikirkan tampilan belaka.

Harapan yang tinggi diletakkan pada diri ibu sebagai arsitek peradaban bangsa. Setidaknya, ibu butuh diberikan ruang yang setara dengan laki-laki untuk dapat mengakses berbagai hal yang positif demi kemajuan dirinya.

Ibu akan dapat memberikan kontribusinya yang begitu penting bagi bangsa ini jika para ibunya adalah ibu-ibu yang maju, yang cerdas, dan berkepribadian luhur. Jika kita melihat sejarah, betapa setiap orang-orang yang hebat di dunia ini terlahir dari sosok ibu yang hebat pula.

Selin itu, pemimpin-pemimpin yang hebat, tidak hanya terlahir dari ibu yang hebat, tetapi juga karena didampingi oleh istrinya yang hebat pula. Para ibu hebat, cerdas, progresif, visioner, dan berakhlaqul karimah inilah yang menjadi ibu yang sangat berharga bagi bangsa ini.

Selamat Hai Ibu untuk seluruh perempuan-perempuan hebat.

Semoga kalian dapat terus maju dan mampu melahirkan serta merawat peradaban yang jauh lebih beradab untuk kita semua. Melahirkan generasi yang mampu memuliakan kalian dan bukan generasi yang justru melecehkan sosok yang melahirkannya.

Ibu tidak hanya sebatas simbol kehidupan, tetapi ibu adalah sumber sekaligus kehidupan itu sendiri.

Terima Kasih untuk kalian seluruh Ibu dan Calon Ibu. Maaf jika kaum kami sering membuat kalian kecewa.

Kalian luar biasa………

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.