Asal-Usul Mudik: dari “Udik” Hingga “Mulih Dhisik”

Oleh: Sarip Hidayatuloh

“Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas” Ya, judul novel yang dikarang oleh Eka Kurniawan ini rasanya sangat mewakili seluruh manusia yang sedang digajul rindu. Begitu pun dengan kaum muslim Indonesia yang sedang merantau di luar kota atau bahkan luar negeri, lama tak jumpa dengan keluarga dan sanak saudara, menjadikan pertemuan sebagai jalan terbaik penawar rindu.

Apalagi sekarang ini, setelah 2 tahun ke belakang pemerintah membatasi masyarakat untuk mudik karena alasan pandemic covid-19, ahirnya pemerintah membolehkan masyarakat untuk melaksanakan mudik.

Menhub Budi Karya Sumadi di kantor Bisnis Indonesia, Rabu (27/4/2022) menyatakan bahwa, pemudik tahun ini dengan hasil survei Balitbang 2022 sebangak 85 juta orang.

Hal ini dikarenakan, mudik merupakan fenomena sosio-kultural. Dia adalah darah daging manusia Indonesia. Berbagai alasan rasional seolah tidak mampu menjelaskan fenomena yang teranyam rapat dalam nilai kultural bangsa Indonesia itu.

Memang ada berbagai alasan mengapa orang balik mudik lebaran. Namun yang paling pokok dari ketiga hal itu tampaknya adalah alasan untuk mengunjungi orang tua dan kerabat.

Tradisi mudik merupakan salah satu kekhasan menjelang Lebaran di Indonesia.  Masyarakat Indonesia berbondong-bondong pergi ke kampung halamannya untuk berkumpul bersama sanak-saudara.

Asal-Usul Kata Mudik

Wikipediawan sekaligus Direktur Utama Narabahasa, Ivan Lanin, mengatakan, asal-usul kata mudik sudah ada sejak sekitar 1390. Kata “mudik” ditemukan dalam naskah kuno berbahasa Melayu.

Dilansir dari kompas.com, berdasarkan penelusuran Ivan di Malay Concordance Project, kata “mudik” sudah dipakai pada naskah “Hikayat Raja Pasai” yang bertarikh sekitar 1390,

Kata “mudik” dalam naskah tersebut mengandung arti “pergi ke hulu sungai”. “Kata ini tampaknya berkaitan dengan kata “udik” (hulu sungai) yang dilawankan dengan “ilir” (hilir sungai),” jelas Ivan.

Baca Juga  Dominasi Sejarah Politik dan Ideologi Negara dalam Buku Teks Sejarah

Dalam perkembangannya, kata “mudik” mengalami perubahan makna. Pada awalnya berarti pergi ke hulu sungai, kini bermakna pergi ke kampung. Hal itu didasari karena, hulu sungai (pedalaman) dianggap identik dengan kampung asal.

Makna mudik kemudian tidak hanya terbatas pada kampung saja. Kampung atau tempat asal menjadi bukan hanya merujuk pada wilayah kampung/desa, melainkan juga wilayah kota. Komponen makna yang dipertahankan ialah “tempat asal”, bukan jenis tempat asal itu.

Sementara bagi masyarakat Jawa, “mudik” diartikan sebagai mulih dhisik (pulang dulu) yang kemudian diinterpretasikan menjadi pulang dulu. 

Masyarakat Betawi mengartikan mudik sebagai “kembali ke udik“. Dalam bahasa Betawi, “udik” berarti kampung. Saat orang Jawa hendak pulang ke kampung halaman, maka orang Betawi menyebut “mereka akan kembali ke “udik”. Akhirnya, istilah ini mengalami penyederhanaan dari “udik” menjadi “mudik”.

Sejarah Mudik di Indonesia

Mudik, sudah menjadi tradisi wajib bagi bangsa Indonesia. Tradisi ini pun, sudah menjadi aktivitas sosial berskala nasional. Lalu bagaiaman mudik akhirnya bisa menjadi sebuah tradisi bagi masyarakat Indonesia?

Umar Kayam dalam bukunya yang berjudul “Seni Tradisi Masyarakat” yang terbit di Penerbit Pinus pada tahun 2002, menyatakan bahwa mudik awal mulanya merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Keberadaannya jauh sebelum kerajaan Majapahit.

Awalnya kegiatan ini digunakan untuk membersihkan pekuburan atau makam leluhur, dengan disertai doa bersama kepada dewa-dewa di Khayangan. Tradisi ini bertujuan agar para perantau diberi keselamatan dalam mencari rezeki dan keluarga yang ditinggalkan tidak diselimuti masalah.

Namun, sejalan masuknya pengaruh ajaran Islam ke tanah Jawa membuat tradisi ini lama-kelamaan terkikis, karena dianggap perbuatan syirik terutama bagi mereka yang menyalahgunakan dengan meminta kepada leluhur yang telah meninggal dunia. 

Baca Juga  Scold’s Bridle Sebuah Hukuman Bagi Tukang Ghibah/Gosip pada Abad Pertengahan

Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno mengatakan bahwa mudik sebenarnya sudah ada sejak zaman kerajaan (kompas.com).

Menurutnya, kebiasaan mudik dimulai sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam. Dahulu, wilayah kekuasaan Majapahit begitu luas hingga ke Sri Lanka dan Semenanjung Malaya.

Kerajaan Majapahit pun menempatkan para pejabatnya di titik-titik kekuasaan mereka. Sampai pada suatu ketika, pejabat tersebut akan kembali ke pusat kerajaan untuk menghadap raja dan mengunjungi kampung halaman. Kebiasaan ini lantas dikaitkan dengan lahirnya fenomena mudik.

Akan tetapi, isliah “mudik” baru populer sekitar 1970-an. Kata ini menjadi sebutan untuk perantau yang pulang ke kampung halamannya.
Dilansir dari majalah historia.id menurut sejarawan Yuanda Zara, tradisi mudik di Indonesia terjadi setelah Indonsia merdeka, yaitu sekitar tahun 1950-an. Pusat dari fenomena mudik tersebut adalah Jakarta, karena setelah Indonesia merdeka, masyarakat menjadikan Jakarta sebagai tujuan utamanya untuk mengadu nasib.

Dilansir dari historia.id pada tahun 1948-1949 penduduk Jakarta hanya sekitar 800.000 jiwa, setelah tahun 1950, penduduk Jakarta bertambah secara signifikan mencapai 1.4 juta jiwa.

Hal ini menunjukkan bahwa, sejak dulu, Jakarta selalu menjadi tujuan utama masyarakat Indonesia untuk mengadu nasib dengan tujuan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan berkecukupan.

Jadi, setelah tahun-tahun yang diwarnai dengan peperangan karena kolonialisme dan imperialisme, kemerdekaan seolah memberikan harapan baru dan harapan itu ada di ibu kota negara yaitu Jakarta.

Setelah sekian lama tinggal dan bekerja di Ibu Kota, mereka kemudian memiliki kerinduan akan kampung halamannya, maka ada keinginan untuk pulang dengan harapan dapat bertemu dengan keluarga dan menggunakan hasil kerja di kota untuk digunakan di kampungnya. Dari situlah fenomena mudik itu muncul menurut Yunanda Zara dalam acara Dialog Sejarah Historia “Serba-Serbi Mudik” (7/5/2021).

Baca Juga  Sejarah Dalam Perspektif Pendidikan

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.