Memahami Sejarah, Mencermati Zaman dan Mengkritik Kekuasaan

Oleh: Sarip Hidayatuloh

sengkala – Sejarah pada dasarnya memang selalu aktual, dan bisa kita pakai sebagai pijakan historis dalam mencermati dan mengkritik kekuasaan.

Kita bisa melihat itu melalui kisah refleksi tentang pemimpin-pemimpin dunia yang dibuat oleh Presiden Richard Nixon setelah ia terjungkal dari kursi kepresidenannya karena skandal Watergate (Swantoro: Nixon Tentang Para Pemimpin Dunia).

Menurut Nixon, pemimpin dunia ini pasti pernah mengalami puncak dan lembah politik, kemudian manusia takkan pernah menghargai puncak itu tanpa pernah tersungkur ke dalam jurang-jurangnya.

Hal itu bisa kita lihat dalam diri Soekarno. Sebagai seorang pemimpin yang revolusioner, Soekarno adalah sosok yang sangat lihai dalam menjalankan perannya, tetapi tidak dapat memfokuskan perhatiannya untuk membangunnya kembali.

Menurut Nixon, seorang pemimpin itu ditentukan oleh kombinasi tiga hal, yaitu waktu, tempat dan situasi.

Seorang tokoh atau pemimpin yang mampu berperan dengan baik di suatu negara atau wilayah, belum tentu mampu berperan dengan baik di negara lain atau pada situasi dan waktu yang lain.

Mungkin dalil itu terlihat atau terdengar biasa saja, tetapi karena pandangan itu, banyak pemimpin abai dan melupakannya. Banyak pemimpin yang besar kepala, menganggap dirinya mampu memimpin dan berkuasa di mana pun dan dalam situasi apapun, dengan dalil bahwa mereka pernah berhasil menjadi pemimpin di tempat lain.

Di negara kita tercinta ini, banyak contoh kegagalan seseorang tampil sebagai pemimpin dalam suatu daerah atau situasi dan waktu tertentu, walau ia sebelumnya berhasil menjadi pemimpin dalam waktu, situasi dan daerah lain.

Benar kiranya, bahwa seseorang tidak akan pernah bisa jaya menjadi seorang pemimpin sepanjang masa. Seorang pemimpin yang menonjol di masa pergerakan nasional, belum tentu dia akan tampil cemerlang di masa sesudahnya.

Baca Juga  Sekolah-sekolah Pada Masa Hindia Belanda

Konsepsi kepemimpinan yang ia gunakan di masa pergerakan nasional, belum tentu cocok dengan persyaratan yang harus dipenuhi dalam memimpin pada masa pembangunan.

Jika kita mundur sedikit untuk memperjelas pandangan tersebut. Soekarno, ia begitu brilian dan superior dalam memimpin pergerakan nasional hingga memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, tapi kemudian ia terseok-seok pada periode selanjutnya, hingga pada akhirnya harus tumbang di tangan Orde Baru.

Soeharto, dengan tangan besinya ia mampu membawa Indonesia berada pada situasi swasembada pangan, tapi di akhir-akhir kekuasaannya justru ia terjungkal karena tidak mampu lagi mempertahankan kelihaiannya dalam memimpin.

Banyak pemimpin kita yang sungguh tidak tahu diri, merasa masih mampu seperti dulu, padahal zaman dan situasi sudah berubah total. Seperti halnya hari ini, tidakkah kita sudah berada pada zaman reformasi? Tetapi mengapa banyak pemimpin kita adalah mereka-mereka yang dulu adalah pelaku utama Orde Baru yang justru telah ditumbangkan oleh Reformasi?

Pertanyaannya adalah, mengapa mereka yang sudah kalah dan kadaluarsa pun tetap mau menjago sebagai pemimpin? Mungkin semua itu terjadi karena pemimpin kita tidak pernah mau belajar dari sejarah, sehingga tidak tahu dan tidak paham dalil sejarah tentang kepemimpinan bangsa.

Itulah mengapa, hingga hari ini tidak terjadi regenerasi pemimpin, padahal sebagian besar penduduk Indonesia didominasi oleh generasi muda.

Negeri kita, terus dipimpin dan dikendalikan oleh pemimpin yang itu-itu saja, yang tidak benar-benar memiliki ketulusan dalam memimpin, melainkan didasari oleh motif kepentingan politik dan ekonomi. Seperti yang ditunjukkan oleh tingkah laku mereka di masa lalu dan terbawa hingga hari ini.

Tidak mudah memang menjadi seorang pemimpin yang tahu diri dan menerima keterbatasannya. Tidak sedikit pemimpin yang ketika masa kekuasaannya habis, seolah ia ikhlas menyerahkan kekuasaannya kepada penggantinya. Tapi justru ia tetap ikut campur, malah nyaris merecoki kepemimpinan penerusnya.

Baca Juga  Sejarah Candi Borobudur

Di negeri ini pun banyak orang semacam itu. Mereka-mereka ini adalah pribadi-pribadi yang mudah melancarkan kecaman dan menjatuhkan vonis keras terhadap sikap dan langkah sesama. Memang jika dilihat dari perjalanan panjang bangsa ini, banyak orang yang membusungkan dada dan menyatakan diri pemberani justru setelah ancaman bahaya itu berlalu. Suatu ironi yang sangat memilukan.

Sarip Hidayatulloh

Saat Tuhan menaikkan level hartamu. Jangan naikkan level gaya hidupmu. Tapi naikkan level sedekahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.